MAKALAH
“MODEL
PEMBELAJARAN ANALISIS KONSEP”
Kelompok
13
Nurliana
Mawaddah (150210204015)
Farisia
Pratiwi Umami ( 150210204051)
Afan
Muhammad Kharisma Islami (150210204069)
Dika
Febrian Sanjaya ( 150210204131)
Program
Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Jember
BAB
I
PENDAHULUAN
Tujuan
a. Mengetahui
pengembangan perbendaharaan model-model pembelajaran
b. Megetahui
pemilihan model belajar-mengajar yang efektif
c. Mengetahui model-model belajar-mengajar ( pembelajaran) analisis konsep dasar IPS
Rumusan Masalah
1. Factor apa saja
yang harus di perhatikan dalam memilih modep pembelajaran yang efektif?2. Apa saja model pembelajaran yang efektif dalam kegiatan belajar-mengajar Konsep Dasar IPS?
BAB
II
ISI
Model
pembelajaran analisis konsep merupakan model pembelajaran yang sifatnya
membelajarkan siswa mengenai bagaimana memproses informasi dengan menganalisis
konsep. Dalam kegiatan belajar ini akan dikemukakan hal-hal sebagai berikut,
yaitu :
1.
Perlunya bagi guru mengembangkan
pembendaharaan model-model pembelajaran
2.
Pemilihan model belajar-mengajar yang
efektif
3.
Model-model belajar-mengajar ( pembelajaran
) analisis konsep dasar IPS
A.PERLUNYA
BAGI GURU MENGEMBANGKAN PEMBENDAHARAAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Bagi
mereka yang Memandang bahwa mengajar merupakan suatu seni, ( kiat ) pribadi,
maka penguasaan sejumlah model-model mengajar merupakan suatu seni ( kiat )
dari guru yang baik. Kita merasa bahwa guru seyogianya melihat model-model
mengajar ini sebagai suatu jalan untuk mencapai tujuan yang bervariasi luas.
Pada dasarnya tidak ada strategi mengajar yang tunggal yang dapat mencapai
setiap tujuan. Guru yang bijaksana akan mengatur perbendaharaan strategi yang
tepat untuk menghadapi macam masalah-masalah belajar tertentu yang dihadapinya.
Misalknya model non-direktif akan berguna dalam mengajar orang untuk menjadi
lebih terbuka dan sadar akan perasaan dirinya, bebas berinisiatif, dan membantu
mengembangkan dorongan dan kepekaan untuk mendidik diri sendiri. Model
laboratory akan berguna untuk memperbaiki keterampilan hubungan manusiawi.
Perbendaharaan
model-model pada guru, merupakan sesuatu yang penting bila ia bertanggung jawab
untuk mengajar banyak anak dalam beberapa bidang kurikulum. Bagi guru bidang
studi ( spesialis mata pelajaran ) yang bertanggung jawab mengajarkan satu
bidang tertentu kepada siswa yang relatif lebih matang, akan menghadapi
tugas-tugas mengajar yang tidak dapat dilayani dengan satu model tunggal.
Misalnya seorang guru bahasa Inggris dapat menggunakan beberapa model mengajar.
Model sinektik mungkin digunakan dalam mengajar menulis kreatif , teknik-teknik
Skinar digunakan untuk mengajarkan keterampilan, dan metode behavioral atau
non-derektif untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman terhadap kemampuan
sendiri dan keinginan untuk mengembangkan diri sendiri.
Mengembangkan
pembendaharaan model mengajar berarti mengembangkan keluwesan, karena keluwesan
ini akan merupakan landasan bagi pemahaman dan kemungkinan pemilihan dalam pemilihannya.
Bagian dari keluwesan ini adalah professional, setiap guru akan menghadapi
rentangan masalah yang luas, dan apabila ia memiliki perbendaharaan model-model
mengajar secara luas, maka ia akan lebih mampu mengatasi masalah secara lebih
kreatif dan imajinatif. Pada sisi pribadi, perbendaharaan menuntut kecakapan
untuk menumbuhkan dan memperluas potensi seseorang, dan kemampuan untuk
mengajar dengan cara-cara yang lebih bervariasi dan lebih menarik agar dapat
menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan yang ada.
B.PEMILIHAN
MODEL BELAJAR-MENGAJAR YANG EFEKTIF
Dalam uraian sebelumnya telah di
jelaskan mengenai model belajar yang berlaku umum yang diperkirakan lebih cocok
untuk berbagai tujuan. Dalam uraian tersebut, istilah model belajar – mengajar
digunakan dalam istilah yang berbeda, sementara itu beberapa penulis seperti
Borich (1988) juga Huoston dkk ( 1989 ) menggunakan istilah strategi
belajar-mengajar dalam pengertian yang sama untuk menggambarkan keseluruhan
prosedur yang sistematis untuk mencapai
tujuan. Dalam uraian ini istilah strategi belajar-mengajar digunakan untuk
menunjukkan siasat atau keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh guru untuk
menciptakan tujuan pendidikan, sedangkan istilah model belajar-mengajar menurut
Joyce dan Weil ( 1986 ) digunakan untuk menunjukkan sosok utuh konseptual dari
aktivitas belajar-mengajar yang secara keilmuan dapat diterima dan secara
operasional dapat dilakukan. Karena itu dalam model selalu terdapat tujuan dan
asumsi sintakmatik, system social, system pendukung dan dampak instruksional
dan pengiring.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa model belajar-mengajar itu merupakan inti atau jantungnya strategi
mengajar ( Udin Saripudin, 1994 : 151 )
Walaupun secara teoretik tersedia cukup banyak model
belajar-mengajar yang dapat di pakai oleh pengajar dalam pelaksanaan
pengajaran, mengajar seyogianya memililih model mana yang dianggap atau
diperkirakan paling efektif
Menurut Huoston, Clift, Freiberg,
dan Wamer ( 1988 ) terdapat lima factor yang menentukan keefektivitas mengajar
para pengajar, yaitu :
1.
Ekspektasi pengajar tentang kemampuan pebelajar
( siswa ) yang akan dikembangkan
2.
Keterampilan pengajar dalam pengelola kelas
3.
Jumlah waktu yang digunakan oleh pebelajar
untuk melakukan tugas-tugas belajar yang bersifat akademik
4.
Kemampuan pengajar dalam mengambil
keputusan pembelajaran, dan
5.
Variasi metode mengajar yang dipakai oleh
pengajar
Secara
umum, strategi belajar-mengajar dapat di kategorikan kedalam dua kelompok
strategi, yakni :
1.
Strategi di arahkan pengajar ( Teacher-Directed
Strategies )
2.
Strategi yang terpusat pada pebelajat (
Student-Directed Strategies )
Yang
termasuk ke dalam kelompok strategi yang diarahkan kepada pengajar antara lain
ceramah, Tanya jawab, dan Drill dan latihan, sedangkan yang termasuk kelompok
strategi yang terpusat kepada pebelajar, antara lain belajar kelompok,
penyingkapan yang terbimbing ( Guided Discovery )
Sedangkan
Borich ( 1988 ) mengelompokkan strategi belajar-mengajar menjadi dua kelompok, yaitu
Direct Instruktion Strategies dan Indirect Instuktion Strategies. Yang menjadi
dasar pengelompokkan ini ialah jenis hasil belajar yang ingin dicapai. Dalam
kerangkan ini, hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar,
yaitu :
1.
Fakta, hokum, dan urutan tindakan
2.
Konsep, pola dan abstraksi
Hasil
belajar jenis pertama tercermin dari perilaku kognitif, efektif dan
psikomotorik taraf rendah. Sedangkan hasil belajar jenis kedua tercermin dalam
prilaku kognitif, efektif, dan psikomotorik taraf yang lebih tinggi.
Direct
instruction strategies menurut Borich ( 1988 ; 143 ) sangat cocok untuk
mengajarkan atau mencapai hasil belajar kategori pertama. Sedang untuk mencapai
hasil belajar jenis kedua diperlukan indirect instruction strategies.
C.MODEL-MODEL
BELAJAR-MENGAJAR ( PEMBELAJARAN ) ANALISIS KONSEP DASAR IPS
Pada kegiatan belajar 1 dalam modul
ini, sudah diperkenalkan beberapa macam model belajar-mengajar ( pembelajaran )
secara umum yang dikemukakan oleh Joyce dan Weil. Model pembelajaran yang
disajikan, merupakan kerangka konseptual yang bertolak dari teori psikologi
tertentu dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Selain model-model belajar-mengajar
yang bersifat khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu,
terdapat juga model-model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan
untuk mencapai tujuan yang lebih umum. Dengan demikian model ini dapat
digunakan lebih bebas ( Udin Saripudin, 1994 ; 140 ), yaitu :
1.
Model pengorganisasian pertemuan yang dapat digunakan
baik dalam situasi situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun
dalam situasi interkasi pembelajaran formal. Ke dalam kelompok ini termasuk
bentuk siding umum, siding pleno, kerja kelompok, kelompok minat khusus, forum,
penyajian situasi, penyajian konflik, penyajian skill, symposium, panel
lokakarya, seminar, dan lain-lain.
2.
Model-model diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam
situasi pembelajaran kelompok secara bervariasi termasuk kedalam kelompok ini
antara lain : model kelompok curah pendapat, model kelompok bebas, model studi
kasus. Model kelompok silang pendapat, diskusi kelompok bebas, bermain peran,
simulasi, bimbingan belajar, dan lain-lain.
Khusus
untuk pengajarn IPS, Kokasih Djahiri ( 1978 / 1979 ) mengemukakan beberapa
alternative model-model belajar-mengajar ( pembelajaran ) IPS, seperti model
lecturing ( cermah yang disempurnakan ), model mengajarkan konsep, model
ekspositori, model participatori, model prolr playing, model VCT, model inkuri
nilai, model analisa dan penilaian nilai, model inkuiri, model kerja kelompok
model studi proyek dan model percontohan.
Sudah
barang tentu model belajar-mengajar mengacu kepada tujuan pengajaran IPS itu
sendiri. Khusus untuk di Sekolah Dasar ( SD ), tujuan pengajaran IPS adalah
agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna
bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilmu pengetahuan untuk
mengembangkan kemampuan dan sikap rasional tentang gejala-gejala social, serta
kemampuan tentang perkembangan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia di
masa lampau dan masa kini. Khusus untuk pengajaran sejarah bertujuan agar siswa
mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak
masa lalu hingga masa kini sehingga siswa memiliki kebanggan sebagai bangsa
Indonesia dan cinta tanah air ( Kurikulum Pendidikan Dasar ). Pembelajaran IPS
di Sekolah Dasar ( SD ) mempelajari berbagai kenyataan social dalam keidupan
sehari-hari yang bersumber dari ilmu bumi, ekonomi, sejarah, antropologi,
sosiologi, dan tata Negara. IPS yang diajarkan di sekolah dasar lebih
ditekankan kepada pemberian bekal awal, baik yang berupa pengetahuan,
keterampilan, nilai maupun moral pada siswa untuk dijadikan modal dalam
mengenal dn memahami lingkungan sekitar sesuai dalam kaidah dan norma yang
berlaku ( Lasmawan, 1995 ).
Ruang
lingkup materi pengajaran pendidikan IPS di Sekolah Dasar ( SD ) meliputi
masalah kehidupan manusia dan masyarakat ( luas maupun setempat). Sedang, ruang
lingkup kajiannya meliputi kajian hal ihwal kehidupan diri manusia,
perekonomian, kemasyarakatan, budaya, hokum, politik, kesejarahan, geografi (
fisis dan sosbud ) dan kehidupan keagamaan.
Dalam
kurikulum pendidikan dasar, kajian pendidikan IPS meliputi :
1.
Hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan social,
termasuk kajian tentang (a) keluarga, (b) masyarakat setempat, (c) uang, (d)
tabungan, (e) pajak, (f) ekonomi setempat, (g) wilayah provinsi, (h) wilayah
kepulauan, (i) pemerintahan daerah, (j) Negara RI, (k) pengenalan kawasan
dunia.
2.
Yang berhubungan dengan sejarah, meliputi (a) sejarah
lokan, (b) kerajaan-kerajaan di Indonesia, (c) tokoh dan peristiwa, (d)
bangunan sejarah, (e) Indonesia pada zaman Portugis, Spanyol, Belanda, dan
pendudukan Jepang, dan (f) beberapa peristiwa penting masa kemerdekaan.
Agar
pencapaian tujuan pengajaran IPS terlaksana dengan baik diperlukan model
belajar-mengajar yang dianggap dan diperkirakan paling efektif dalam menyajikan
materi pengajaran IPS. Khususnya di Sekolah Dasar (SD ). Untuk ini akan kita
bicarakan beberapa model pembelajaran IPS yang sudah / sering kita dengar,
tetapi pelaksanannya yang masih perlu kita tingkatkan. Model-model
belajar-mengajar/pembelajaran tersebut antara lain sebagai berikut (Kosasih
Djahri, 1978/1979)
1.
Model lecturing (ceramah) yang
disempurnakan
a.
Pangkal tolak berpikir dan permasalahannya
Lecturing pada
hakikatnya memberikan pelajaran dengan jalan ceramah, di mana guru berada di
muka kelas, memimpin dan menentukan isi dan jalannya pelajaran serta
mentransfer (menuangkan) segala rencana pelajarannya (kebanyakan dengan lisan)
yang menurutnya baik/perlu bagi para siswanya.
Teknik ini paling
banyak kita gunakan dalam rapat-rapat, menyampaikan pelajaran,diskusi dan
bahkan dalam lokakarya. Para guru umumnya banyak menggunakan teknik ini
dikarenakan hal sebagai berikut :
1.
Kebiasaan kiprah umum
2.
Kebiasaan yang membaku pada dirinya
3.
Pertimbangan praktis; murah, mudah, dan cepat serta
tidak memerlukan fasilitas-fasilitas yang banyak/susah
4.
Ketidaktahuan akan cara teknik lainnya
5.
Factor jumlah program dan kurangnya waktu
Masalahnya ialah: benarkah kita memahami
dengan baik seluk beluk lecturing ini? Mengertikah kita akan pengertian
lecturing ini? Tahukah tujuan dan sasaran yang harus serta akan dicapai oleh
lecturing yang terorganisasi secara baik? Bilasemua ini bias kita hayati dengan
sempurna, sebenarnya tidak semua teknik lecturing itu buruk. Apalagi bila hal
tersebut dipadu dengan berbagai variasi teknik lainnya.
b.
Pada lecturing yang menjadi kelumrahan dalam mengajar
Memang tidak diragukan beberapa
kelemahannya ialah antara lain keberhasilan, kemantapan dan kelestarian hasil
pelajaran sangat diragukan. Terlebih-lebih bagi kelas rendahan. Sebab pada
lecturing ini siswa di bawa dalam alam verbal (lisan) dan abstrak dengan tempo
proses internalisasi (pemantapan/pemahaman) yang relative sangat singkat.
Rentetan ucapan guru yang demikian
banyak (apalagi kalau bersifat kompleks) serta tempo bicara yang beruntun akan
memaksa anak menangkap (melalui:telinga, mata, pikiran dan tangan untuk
menulis) semampunya saja. Dan sebagai manusia, siswa ini memiliki daya mampu
yang terbatas; yang kian lama kian menurun. Hamper tidak ada siswa yang
memiliki daya mampu dengar, lihat, menulis daan berpikir selaama 2 x 45 menit
secara konstan.
Lebih baik bila gaya mengajar dan
situasi belajarnya monoton. Proses belajar adalah proses adaptasi, proses
internalisasi dan interaksi serta akomodasi/konsep/data/fakta ke dalam diri
(pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa).
Sejumlah
factor dan persyaratan untuk ini perlu selalu kita perhatikan. Karena apabila tidak,
proses ini hanya dengan verbal belaka sejumlah tahapan proses hilang atau
kurang mantap. Dan bila dilakukan melalui membaca (dari papan tulis atau buku)
maka apa yang diutarakan seorang ahli daya mampu baca, Prof. eve Malmoquist
(bukunya: perceptive on reading research) sangat perlu kita perhatikan. Beliau
menyatakan bahwa kemampuan membaca pada anak sangat berlainan dan tergantung
pada tingkat usianya. Riset menunjukkan bahwa kemampuan membaca per kata
berkisar antara ½ sekon (anak kelas 1SD) sampai ¼ sekon (mahasiswa). Daya baca
ini kian lama kian menurun. Apabila diingat bahwa yang penting dalam membaca
bukan membaca huruf-huruf, melainkan sambil menghayati dan berpikir.
Dapatkah
kesemua hal di atas terpenuhi oleh teknik ceramah tradisional kita? Bahwa ini
tidak dapat kita hapuskan sama seklai, memang dapat kita akui. Namun perlu
direnungi kemanfaatan dan cara yang maksimal.
c.
Tujuan keuntungan dan kelemahan lecturing (G. Covendala
: 1974)
1.
Tujuan dari lecturing, ssecara umum antara lain:
a.
Mentransfer sejumlah pengetahuan dari guru kepada siswa
b.
Memberikan ilham (inspirasi) kepada siswa tentang
sesuatu untuk dipelajari lebih jauh
c.
Menerangkan, menjelaskan sesuatu dari bahan yang ada
(buku, gambar, dan lain-lain)
d.
Mengemukakan hal yang tidak ada dalam buku/publikasi,
dan lain-lain
e.
Memberikan gambaran (perspektif) umum dari keseluruhan
bidang studi atau konsep
f.
Menuntun siswa mengenal struktur dasar (basic
structure) pengetahuan/bidang studi (bila lecturing dijalankan dengan
terorganisasi baik dan dibawakan baik)
g.
Menuntun siswa kea rah mengetahui; kerangka,
sistematik, logika dan pengembangan struktur ilmu yang bersangkutan
h.
Mengajak siswa untukl berdialog ke dalam dirinya maupun
dengan luar (guru, teman, lingkungan, dan lain-lain)
i.
Mengekspesikan hal-hal yang tidak dapat dinyatakan
secara tertulis ataupun ungkapan yang sederhana (perlu keterangan, mimic dan
lain-lain)
2.
Kelemahan/keburukannya, antara lain:
a.
Bersifat satu arah, sehingga lebih bersifat
transferring (penuangan) ilmu
b.
Mono teknik dan mematikan kerja indra lain serta adanya
penurunan daya indra yang diperlukan
c.
Penyamarataan daya mampu siswa, bahkan sering sama
sekali tidak diperhatikan oleh guru (guru sentris)
d.
Bila persiapannya buruk, bahan tidak sistematis,
sequence (tata urutan), konsep tidak diperhatikan, dan cara membawakannya
jelek, maka pelaksanaannya menjadi kacau, menyulitkan siswa dan kehilangan arah
e.
Sering membosankan dan tidak menarik bagi siswa, sebab
minat siswa tidak/kurang diperhatikan
f.
Pada lembaga keguruan (IKIP, SPG, atau lainnya) apa
yang dikerjakan guru, cenderung ditiru siswa sebagai model
g.
Hasil belajar kurang baik/kurang mantap
3.
Kebaikan dan keuntungan lecturing, antara lain ialah
a.
Dapat mentransfer ide dan memberikan analisis
sejelas-jelasnya
b.
Dapat melihat dan menyesuaikan diri dengan keadaan dan
siswanya
c.
Sangat tepat untuk menyampaikan informasi
d.
Tepat untuk keadaan dimana siswa berbanding guru tidak
seimbang, dengan disertai teknik dan variasi tambahan/pengayaan
e.
Dapat dengan segera mengetahui keadaan dan daya terima
siswa, hasil transaksi belajar melalui cara-cara tertentu
f.
Bila terjadi kekeliruan penyampaian atau bahan, dapat
segera diperbaiki
g.
Dengan variasi visual dapat lebih menarik dan hidup
h.
Sangat mudah dilaksanakannya, murah dan cepat
d.
Beberapa variasi kea rah menyempurnakan lecturing
1.
Maksud daripada hal ini kiranya jelas yaitu kita member
sejumlah variasi teknik belajar-mengajar kedalam teknik lecturing untuk
mengurangi kelemahan dari teknik ini dan menghidupkan suasana belajar-mengajar.
Tentu saja patut kita perhatikan dalam memuaskan variasi ini, antara lain:
a.
Tujuan instruksional yang ingin kita capai
b.
Jenis konsep/informasi yang akan kita sajikan
c.
Keadaan siswa, waktu, fasilitas dan lingkungan/suasana
belajar
Suatu
catatan penting buat kita selaaku guru bahwa:
a.
Pada kelas lanjut (kels 4 SD ke atas) bahan bacaan
sudah dapatditelaah oleh siswa itu sendiri. Kita hanya menunjukkan
bagian-bagian yang ditelaah serta mencari alat pengontrol hasil bacaan tersebut
b.
Kekurangan waktu pelajaran tidak menjadi hal utama,
sebab guru dapat memilih dan menentukan bagian mana yang akan diketengahkan dan
bagian mana yang sekiranya dapat ditelaah siswa sendiri melalui sejumlah sumber
dan kegiatan (sesuai dengan prinsip efektivitas dalam kurikulum baru)
c.
Siswa dan masyarakat serta lingkungan dan guru lain
dengan segala potensinyaa kiranya dapat dimanfaatkaan dalam kegiatan varisi
belajar-mengajar ini
Adapun
variasi-variasi yang diketengahkan, bersifat umum dan jugement (perkiraan dalam
waktu dan jumlah kegiatannya). Guru dapat menambah/menguranginya sesuai dengan
hal-hal di atas tadi.
2.
Jenis/model variasi-variasi dalam ceramah
a.
Model variasi A:
Babak I – pembukaan dapat memilih
alternative pilihan: antara 5 – 7 menit:
(1)
Obrolan ringan dan ilmiah popular bertautan dengan
pelajaran
(2)
Teknik ekspositori/eksposisi; guru menuliskan atau
memasang gambar atau judul, bagan, dan lain-lain
Berikan uraian singkat yang kelak
akan menjadi pangkal tolak uraian.
(3)
Pada kelas rendahan SD kelas 1 – 4 atau kelas 1 SLTP)
dapat diawali dengan permainan-permainan yang bertautan dijiwai oleh topic kita
(4)
Menampilkan sejumlah alat peraga yang akan digunakan
dengan diberikan penjelasan seperlunya
(5)
Mengemukakan TIK dan pokok bahan unit pelajaran
tersebut, serta sedikit penjelasan umum (overview)
(6)
Dialog atau Tanya jawab
penjajagan tentang entery behavior (prasyarat pengetahuan) dan maslah
yang akan dibawkan. Cara ini kurang menyenangkan bagi siswa untuk menarik
perhatikan.
Babak
II – Fase mengemukakan informs pokok dengan jalan:
(1)
Memberikan ulasan umum atau pengarahan
(2)
Pokok uraian lengkap (informasi) melalui: contoh,
gambar, bagan, slide, film, dan lain-lain
(3)
Pertelaan informasi secara verbal atau visual. Teknik
dalam tahapan ini dapat berupa: (a) uraian verbal disusul visualisasi,
konkretisasi, atau disusul uraian (disarankan dalam tahapan ini mulai dengan
dialog/interaksi guru maupun murid-murid)
(4)
Pemantapan konsep dan penjajagan sementara atas hasil
di atas dalam bentuk: Tanya jawab, pemecahan masalah, diskusi singkat atau
inkuiri terpimpin bertemakan uraian di atas
(5)
Fase penyimpanan pelajaran: guru bersama siswa membuat
kesimpulan-kesimpulan pelajaran tersebut
(6)
Pengayaan: dimana guru menarik bahan tambahan untuk
pemantapan dan pengayaan pengetahuan siswa atau memberikan tugas pengayaan
(7)
Analisis hasil belajar dan keberhasilan teknik mengajar
baik menggunakan teknik flanders maupun cara lain yang lebih tinggi sederhana
Catatan:
visualisasi dapat dengan alat peraga, OHP, bagan dan lain-lain. Konskretisasi
dalam bentuk perumpamaan atau percobaan contoh riil.
b.
Model B – secara visual dapat digambarkan sebagai
berikut
5 – 10 menit à lecturing sebagai pembukaan guru
30 – 45 menit à simulasi (sosio drama), diskusi/kerja
kelompok, Tanya jawab dan lain-lain
… menit à lecturing penyimpulan
atau penegasan konsep dari guru dan siswa diturutsertakan
c.
Model C – secara visual terlihat dalam bahan
Model ini adalah variasi berbagai
jenis teknik yang memperkaya dan menghidupkan suasana belajar
10 %
X waktu à
ulasan/pembukaan uraian singkat
20 % X waktu àkerja kelompok /
klasikal atau studi kepustakaan atau diskusi kelas/kelompok
30 % X waktu àrole playing / sosio
drama / simulasi, eksperimentasi atau peragaan dan lain-lain
10 % X waktu à penelaahan / penilaian
hasil di atas secara klasikal / kelompok
20 % - waktu à lecturing / uraian /
pembahasan guru
10 % - waktu à dialog / Tanya jawab
guru murid dan pengambilan kesimpulan serta evaluasi
d.
Model ceramah dibawkan oleh ahli yang bersangkutan,
sehingga suasana pelajaran sebagaimana keadaan dan gambar sebnernya. Misalnya
ceramah / pelajaran sejarah tentang revolusi dibawakan oleh tokohnya yang
diundaang khusus atau melalui video tape ( rekaman TV)
e.
Model E yang lumrah dikenal dengan nama team teaching
yang baik dan terencana
e.Cara
mempersiapkan dan melaksanakan lecturing
1.
Hendaknya diingat bahwa lecturing yang baik ialah yang:
a.
disipkan secara sempurna dan baik
b.
terorganisasi ( tersusun ) secara rapih dan sistematis
c.
dibawakan dengaan sempurna (jelas, menarik dan
dimengerti)
Adapun
langkah persiapannya ialah sebagai berikut:
a.
hayati dan tentukan TIK yang Anda kehendaki
b.
cari dan tentukan lingkup bahan serta pokok-pokok bahan
tersebut
c.
pilihlah bahan mana yang akan Anda ambil untuk Anda dan
mana untuk siswa
d.
tetapkanlah: (1) teknik-teknik dan media yang akan Anda
gunakan (perubahan pelajaran), (2) teknik, media dan cara yang harus dikerjakan
siswa Anda. Bila perlu dibuat secara terperinci dan tertulis (pedoman kerja
siswa) tetapkan urutan dan kegiatannya
e.
usahakan Anda membuat cataan (semacam ihtisar) untuk
diberikan kepada siswa Anda, mempunyai patokan dan arah serta mengoreksi atau
belajarnya kelak
f.
persipan, pengadaan, pembuatan, atau peminjaman bahan
peralatan buku; dan lain-lain. Bila perlu semua itu sudah siap di kelas
sebelumnya
catatan : persiapan ini seyogyianya
dibuat dalam buku khusus, atau map jepit agar kelak dapat diasakan evaluasi
atau ditelaah kembali untuk penggunaan selanjutnya
2.
Cara pelaksanaan yang sebaiknya ialah antara lain:
a)
Perhatikanlah keadaan siswa dan suasana kelas sesaat
sebelum Anda berbicara. Mulailah dengan babak pembukaan dan tidak langsung pada
yang sulit
b)
Usahakanlah menggunakan berbagai variasi seperti
diuraikan di atas tadi
c)
Bicaralah; jelas, keras, sistematis dan jangan terlalu
cepat atau lambat
d)
Bagian-bagian yang penting atau sulit seyogianya
diulangi, diberikan penekanan atau penjelasan lebih lanjut
e)
Dalam memberikan contoh agar diambil dari kenyataan
riil lingkungan siswa dan hal yang popular
f)
Berbuatlah familier (tidak ada ketegangan, paksaan, dan
lain-lain) agar pelajaran berjalan lancer dan hubungan guru siswa lebih intim
g)
Perhatikan wajah, suasana, mimic dan keadaan dalam
menangkap pelajaran berjalan Anda. Berikan perhatian/bantuan khusus kepada
siswa yang kurang mampu tanpa menyinggung harga dirinya
h)
Berikan kesempatan kepada siswa Anda untuk mengambil
kegiatan secara aktif
i)
Jangan bicara sambil menulis atau membelakangi siswa
j)
Jangan kehilangan kontak dengan siswa Anda (Anda bicara
terus seolah-oleh tidak ada siswa Anda)
k)
Pada saat Anda mengemukakan sesuatu istilah dengan
ekspresi wajah, tangan, mimic, gerak, dan lain-lain atau gunakan alat peraga
l)
Berikan catatan-catatan singkat yang dibagikan
sebelum/sesudah pelajaran
m)
Disaat siswa menyatakan pendapat/pertanyaan, berbuatlah
bijaksana untuk; (1) tidakmematikan keberanian/inisiatif, (2) tidak menjawab
langsung (gunakan pertanyaan inkuri)
n)
Berbuatlah sebagai pendorong semangat kemauan belajar
dengan jalan membuka kesempatan-kesempatan berpartisipasi dan hadiah (pujian
dan lain-lain)
o)
Jangan membawa masalah/kesulitan/kesenangan/kedudukan
pribadi ke dalam kelas, karena akan mempengaruhi suasana dan jalannya pelajaran
Akhirnya ingin kami ketengahkan sejumlah kesalahan
umum dalam lecturing yang umum dilakukan guru ialah sebagaimana dikemukakan
oleh C. Coverdale, sebagai berikut:
1)
Bahwa para siswa banyak yang sama sekali tidak dapat
mengikuti apa yang dibicarakan/diajarkan
2)
Guru kehilangan kontak dengan siswanya. Dia bicara
sendiri asal programnya selesai
3)
Cara membawakan dan bicaranya monoton. Sehingga dalam
waktu singkat siswa menjadi bosan, gelisah, gaduh atau ngantuk
4)
Siswa dipaksa hanya menggunakan indra tertentu saja
(mendengar atau baca)
5)
Selama jam pelajaran tidak terjadi proses belajaran
yang wajar, proses berdialog dalam diri, pikiran dan perasaan siswa tidak
sempat terjadi karena kesalahan langkah dan cara dari guru
6)
Adanya penyamarataan keadaan kemampuan siswa
Kesemua itu menurut C. Coverdale
merupakan penghamburan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya dari guru, siswa,
masyarakat dan Negara
Demikian semoga Anda dapat menghayati
pokok uraian tadi serta mulai mencobanya
Catatan : khusus team teaching dapat
terjadi dalam:
1)
Programnya, dimana programnya dibantu oleh sejumlah
guru
2)
Pelaksaan pengajaran: dimana guru inti dengan tim
lainnya saling isi mengisi dan dukung mendukung. Menjaga hal yang tumpang
tindih dan bertentangan, minimal antartim ada pembicaraan persiapan/pendahuluan
sebelumnya. Isi mengisi ini tidak perlu seperti babak-babak sandiwara,
sebaiknya saling mengisi seecara spontan, terutama bila salah seorang ada hal yang
kurang paham/jelas maka anggota tim lain maju. Sehingga benar-benar seperti isi
mengisi dan beruntun
2.Model ekspositori /eksposisi
Pengertian :ekspositori meupakan cara pengajaran yang diawali dengan
peragaan dan diiringi dengan uraian/ulasan penjelasan lisan (Kokasih Djahiri,
1978/1979: 101)
Manfaat
dari cara ini ialah antara lain : pelajaran lebih hidup tidak hanya abstrak
secara verbal belaka, siswa dapat ditarik perhatiannya melalui visualisasi
peragaan serta mulai menghidupkan perhatian imaginasi atau terkaannya dan di
saat mndapat penjelasana/ulasan maka timbul dialog dalam dirinya antara apa
yang diduga/dipikirkannya dengan penjelasan tersebut, suasana kelas bukan
terpusatkan kepada diri pribadi guru melainkan kepada bahan pelajaraan melalui
peragaan tersebut, bahkan dapat menciptakan suasana yang interaktif bilamana
ulasan itu juga dimintakan (secara selingan) dari siswa
Langkah
kegiatan ekspositori, sebagai berikut:
a.
Fase persiapan Guru: dimana guru mempersiapkan
pelajaran sebagaimana biasanya, juga memilih alat bantu/medianya yang akan
digunakan selama jam pelajaran secara babak demi babak. Fleksibilitas alat
bantu dan uraian hendaknya dipersiapkan untuk menampung usul dan keinginan
siswa
b.
Eskpositori I
Guru memasang/menuliskan judul topic
pelajaran dan menjelaskan tujuan instruksional yang ingin dicapainya
c.
Ekspositori II
1)
Guru atau di bantu siswa memasang alat bantu yang
diperuntukkan uraian pembukaan tema pelajaran tersebut
2)
Siswa mulai memperhatikan dan menduga-duga isi peragaan
tersebut
3)
Guru memberikan ulasan singkat, jelas dari peragaan
tersebut, atau uraian/ulasan tema yang di dukung oleh peraga tersebut
4)
Siswa menanggapi, bertanya atau mengajukan pendapatnya.
Dialogf ini berlangsung terus sampai guru beranggapan dapat dilanjutkannya
dengan babak berikutnya
d.
Ekspositori III
1)
Gambarannya seperti dalam tahapan di atas dengan
catatan agar suasana belajar aktif dapat
lebih dihidupkan melalui: (a) pertanyaan pancingan, (b) membuka kesempatan
berpikir dan mengemukakan tanggapan lalu diskusi kecil yang terarah
2)
Tahapan ini terus demikian, tahap demi tahap sampai
guru beranggapan bahwa pokok alasannya selesai. Dianjurkan agar siswa pun
diberikan kesempatan bereksposisi seperti memberikan skema atau simulasi atau
dramatisasi singkat dan lain-lain
e.
Penutup
Merupakan tahap pengambilan
kesimpulan-kesimpulan baik dari guru maupun dari siswa. Namun bagaimanapun juga
dianjurkan agar guru akhirnya memberikan pengarahan/kesimpulan
f.
Follow up (kelanjutan)
Beberapa
pemberian kegiatan remidi (tambahan penutupan bagi yang kurang), pengayaan
(pemantapan tambahan bagi yang sudah mengerti) atau melakukan sesuatu yang
merupakan pengetrapan dari apa yang diutarakan. Semua ini dilakukan di dalam
kelas ( bila waktu mengizinkan ) atau di luar kelas dengan pedoman yang jelas,
terperinci dan dimengerti siswa dan tentunya usaha ini mendapatkan penghargaan
dari guru (nilai atau pujian dan lain-lain.
3. Model Role Playing (Bermain Peran)
a.
Penjelasan umum
Role
playing sebagai media atau teknik belajar sungguh besar peranan nya. Sebab
dengan teknik ini di samping pengangkatan sesuatu keadaan/kejadian ke dalam
ruang kelas , juga sebagai perasaan , keadaan dan perbuatan daripada hal
tersebut akan turut dirasakan (dialami) siswa pelakunya.
Role
diartikan oleh Marsha Weil dan Bruce Joyce sebagai serangkaian urutan perasaan,
kata-kata dan pembuatan yang berpola, yang unik dan merupakan cara cara yang
membaku yang bertautan dengan yang lainnya/orang lain.
Arti
Role secara harfiah ialah peranan. Role Playing biasanya diartkan memainkan
peranan atau berperan sesuatu. Melalui role playing si pelaku (siswa) akan
memerankan /memainkan tersebut seperti adanya. Apabila role playing ini di persiapkan secara baik sehingga benar-benar
mendekati kejadian yang sebenar nya.
Untuk data, fakta,dan kejadian sosial hal ini sungguh sangat baik.
b.
Tujuan dan kebaikan dari role playing
Menurut Fanis Shafrel & George
Shafrel dalam bukunya “Role Playing for Social Values” mengemukakan sejumlah
tujuan yang merupakan kebaikan dari
teknik in, ialah :
1)
Untuk menghayati sessuatu/hal/kejadian yang sebenarnya
dalam realita kehidupan.
2)
Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta
bagaimana akibatnya.
3)
Untuk mempertajam indra dan rasa siswa terhadap
sesuatu.
4)
Sebagai penyalur/pelepasan tension dan
perasaan-perasaan.
5)
Sebagai alat mendiagnosis keadaan, kemampuan, dan
kebutuhan siswa.
6)
Ke arah pembentukan konsep secara mandiri (self
concept)
7)
Menggali peran-peran daripada seseorang dalam suatu
kehidupan/kejadian/keadaan.
8)
Menggali dan meneliti nilai-nilai (norma-norma) dan
peran budaya dalam kehidupan.
9)
Membantu siswa dalam mengklarifikasikan
(memperinci,memperjelas ) pola berpikir, berbuat danketerampilan nya dalam
membuat / mengambil keputusan ( decission making menurut caranya sendiri)
10) Media
pembinaan struktur sosial dansistem nilai lingkungan nya.
11) Membina
siswa dalam : kemampuan memecahkan masalah (problem solving behavior) ,
berpikir kritis analitis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dan lain-lain.
12) Melatih
anak (siswa) dalam mengendalikan dan memperbarui, perasaan, cara berpikirnya
dan perbuatannya.
Catatan
: Untuk mencapai tujuan di atas tersbut secara baik seyogianya guru memahami
benar teknik-teknik mencapai hal tersebut, misalnya teknik menggali perasaan,
teknik memotivasi kemauan siswa dan lain-lain.
Langkah-Langkah
dari Role Playing
Shaftel
mengemukakan sembilan langkah, sebagai berikut :
|
Urutan
Langkah
|
Kegiatan dan
Pelakunya
|
|
1. Penjelasan Umum
|
1.1 Mencari atau mengemukakan permasalahan (oleh guru atau bersama
siswa).
1.2 Memperjelas masalah/topik tersebut
(guru)
1.3 Mencari bahan-bahan , keterangan atau
penjelasan lebih lanjut (bila perlu tunjukkan sumber-sumbernya) oleh guru dan
siswa.
1.4 Menjelaskan tujuan, arti dari role
playing (oleh guru)
|
|
2. Memilih para pelaku
|
2.1.
menganalisis peran-peran yang harus diperankan (guru bersama siswa)
2.2. memilih
para pelakunya (siswa dibantu guru)
|
|
3. Menentukan obsever
|
3.1.
menentukan obsever dan menjelaskan tugas peran nya (guru dan siswa)
|
|
4. Menentukan jalan cerita
|
4.1.
gariskan jalannya cerita
4.2.
tegaskan pera-peran yang ada di dalamnya
4.3. berikan
gambaran situasi keadaan cerita tersebut (guru dan siswa)
|
|
5. Pelaksanaan (main)
|
5.1. mulai
melakonkan permainan tersebut (siswa).
5.2. menjaga
agar setiap peran berjalan (siswa).
5.3. jagalah
agar babakan-babakan terlihat jelas (siswa)
|
|
6. Diskusi dan penilaian
|
6.1. telah
setiap peran ,posisi, dan permainan.
6.2.
diskusikan hal tersebut berikut saran perbaikan.
6.3. siapkan
permainan ulangan nya
|
|
7. Permainan ulangan
|
7.1.seperti sub 6.
|
|
8. Diskusi dan penelaahan
|
8.1. Sepesrti sub 6
|
|
9. Mempertaruhkan pikiran, pengalaman, dan
membuat kesimpulan-kesimpulan
|
9.1. setiap
pelaku mengemukakan pengalaman perasaan dan pendapatnya
9.2.
observer mengemukakan penilaian pendapat (juga di fase 6 dan 8).
9.3 siswa
dan guru membuat kesimpulan-kesimpulan da merangkainya dengan topik / konsep
yang sedang di pelajarinya
|
Catatan
:
Bila
hal ini dierapkan pada situasi pelajaran di indonesia maka sebelum dan pada
fase 1 harus ada tambahan nya, ialah persiapan guru mencari bahan atau cerita
untuk role playing segaris dengan tema yang dihadapinya. Kemudian pada fase
ke-1 guru setelah menerangkan isi topik pelajaran mengungkapkan cerita bahan
role playing tersebut. Dan bila cerita untuk role playing itu akan dicari atau
dibuat siswa , maka guru hendaknya memberikan petunjuk cara pembuatan dan
sumber secara jelas serta memberikan waktu untuk hal tersebut. Cara terbaik
adalah guru memberikan bahan garis besarnya saja serta tuntutan untuk
selanjutnya siswalah yang membuat dan menyelesaikannya.
Berikut
ini gambaran role playing secara sederhana dan singkat :
Contoh
:
Role playing ini permainan untuk
menggali nilai-nilai (value clarification) yang siswa memiliki tentang sesuatu
dan sifat yang terbuka (open ended). Siswa dihadapkan kepada sesuatu yang belum ditentukan penilaian/keputusannya
dan dihadapkan untuk memainkan hal ini serta mengambil keputusan sendiri sesuai
dengan nilai dan konsep yang dimilikinya. Kelak teman-temannya dapat memberikan
pendapat lain untuk kemudian direnungkan (atau bahan renungan bagi lainnya bila
akan role playing ulangan). Maka karenanya melalui role playing bahan di bawah
ini sekaligus siswa diharapkan untuk membentuk konsep secara mandiri (self
concept) membuat keputusan (decission making) dan mengungkapkan sistem nilai
yang ada dalam dirinya yang tentunya berpatokan kepada kiprah umum serta juga
dilatih bermain dengan sesamanya. Pemberian saran dari temannya akan
membiasakan dirinya untuk mawas diri (intropeksi) dan membuka diri (lapang
dada).
Topik pelajaran misalnya masalah
“kejujuran” (saripati dari konsep hukum atau perdagangan dalam ekonomi atau
lainnya) misalnya cerita sudah disiapkan oleh guru.
Fase 1 : guru mengawali pelajaran
dengan mengemukakan bahwa pada jaim itu ia akan mengemukakan masalh kejujuran
sebagai hal yang penting dalam kehidupan. Guru mengemukakan dalam apa saja
kejujuran itu diperlukan. Selang sekian menit guru mengajak siswa mendengarkan
suatu cerita singkat sebagai berikut:
“Umar disuruh ibunya pergi ke pasar
untuk membeli sesuatu . Dalam perjalanan
pulang dia menemukan sebuah dompet. Dipungutnya dompet itu dan dibukanya.
Disamping surat-surat penting terlihat pula isi uangnya banyak sekali. Sambil
berjalan,Umar berpikir tentang hal tersebut, sementara itu dari arah berlawan
nampak seseorang berjalan agak tergesa dengan pandangan matanya kian kemari
bagaikan mencari sesuatu yang hilang. Umar melihat hal ttersebut.
Selesai membacakan cerita ini, guru
kemudian menjelaskan bahwa cerita ini dapat ditambah variasinya oleh siswa
serta harus diselesaikan bagaimana kesudahan dari cerita tadi. Siswa disuruh
berpikir sejenak baik secara sendiri-sendiri maupun kelompok. Selang beberapa
lama guru meminta perhatian mereka kembali dan mengemukakan maksudnya untuk
melakukan role playing.
Guru menjelaskan makna dan cara dari
hal tersebut. Lalu lakukanlah petunjuk langkah-langkah role playing dari Shaftel
di atas secara seksama. Jalankan hal ini dua tiga kali dengan pemain yang
berbeda. Maksudnya untuk lebih mengetahui bagaimana siswamemberi isi cerita
tersebut serta mengambil penyelesaiannya, sehingga nanti dalam membuat
kesimpulan baik siswa maupun guru dapat mengambil beberapa perbandingan.
Barangkali nanti dari cara penyelesaiannya akan ada yang mengembalikan dompet
itu kepada polisi, ada yang langsung, ada yang mengembalikan dengan hadiah dan
lain-lainnya.
Pada babak kesimpulkan guru
mengarahkan berbagai alternatif ke arah menjalankan kejujuran.
4. Model Inquiry (inkuri)
a. Pengertian : inkuri adalah salah satu cara belajar yang bersifat mencari
sesuatu secara kritis, analitis, argumental (ilmiah) dengan menggunakan
langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan, karena
didukung oleh data.
Inkuri
dapat dilakukan secara individu, kelompok atau klasikal, serta dapat dengan
catat tanya jawab diskusi atau kegiatan di dalam maupun di luar kelas.
Perumusan
di atas hanyalah sekadar tuntutan kepada kita untyk memiliki gambaran yang
meyeluruh tentang inkuri tersebut. Untuk jelasnya dapat kita gambarkan sebagai
berikut: bahwa pada kehidupan
sehari-hari sering kita dihadapkan kepada sesuatu hal masalah. Dan kita
dihadapkan kepada: (1) mempercayai hal tersebut atau tidak, (2) keharusan
mengambil sikap, (3) mengambil keputusan.
Contoh:
Anda akan berjalan munuju ke suatu
tempat, tetapi ada berita bahwa jembatan yang menuju tempat tersebut putus,
percayakah anda akan hal itu? Bagimana caranya agar bisa percaya dan yakin akan
berita itu? Dan jalan apa yang anda tempuh ke tempuh ke tempat tujuan tersebut?
Pada contoh di atas, kita kita akan
menemukan orang yang begitu mendengar lalu percaya ih tanpa menyakan lebih
jauh. Ada juga orang yang percaya denga meminta keterangan lebih jauh, selai
itu ada juga yang ragu serta ingin meyakinkannya dengan cara sendiri. Pengajarn
IPS tidak menginginkan melahirkan tipe manusia yang pertama (percaya begitu
saja), paling tidak dia harus meminta keterangan dan megolah kebenaran berita
tersebut. Dan lebih ideal lagi dia hars meyakinkannya, sehingga dia menjadi
anusia yang kritis dan memanfaatkan potensinya serta percaya akan diri sendiri.
Gejolak
kehidupan masyarakat sungguh cepat berubahnya, maka siswa hendaknya dibekali
senjata hidup yang ampuh ialah kemampuan mengkap sesuatu. Inkuri antara melatih
hal tersebut. Inkuri adalah teknik pemencahan masalah secara ilmiah.
b.
inkuri atau dicoveri dengan segala variasinya serta problem solving (pemecahan
masalah), dalam IPS dianggap sebagai cara ilmiah yang paling cocok untuk
dipergunakan sebagai cara kerja (metode) IPS. Sejumlah sarjana tidak membedakan
pendekatan maupun langkah-langkah dari kedua metode tersebut (inkuri dengan
problem solving)
namun
Thorstone dalam bukunya Scaling Attitude mengemukakan bahwa hal yang penting
dalam inkuri ialah siswa mencari sesuatu sampai tingkat “yakin”. Tingkatan mana
dicapai melalui dukungan data, analisis, interpretasi serta pembuktiannya.
Bahkan dalam inkuri akan dicapai tingkat pencapaian alternatif pemecahan
masalah.
Problem
solving lebih menitikberatkan kepada terpecahnya sesuatu masalah yang menurut
perkiran rasio logis benar atau tepat perbedaan lain ialah tingkatan dan cara
kerjanya dalm inkuri tingkatannya lebih tinggi serta lebih komplikatif (ruwet).
Inkuri diterima para ahli IPS sebagai
bendera dari IPS , maka mereka sangat mengajurkan cara kerja ini untuk banyak
dipergunakan dalam pelajran IPS dengan berbagai jenis tingkatan (dari yang
sederhana sampai tingkat yang paling tinggi). Inkuri yang paling sederhana
menggunakan tanya jawab klasikal, di mana peran aktif tetap di tangan siswa.
Guru hanya mengarhkan, membina, memancing jawaban dan lain-lain. Inkuri
sedehana ini juga bisa dalam bentuk kegiatan perbuatan secara sederhana.
c.
tujuan/kegunaan inkuri, ialah
1)
mengembangkan sikap, keterampilan siswa untuk mampu
memcahakan masalah serta mengambil keputusan secara dan mandiri
2)
mengembangkan kemampuan berpikir para siswa proses
berpikir terdiri dari serentetan keterampilan-keterampilan (mengumpulkan
informasi, membaca data, dan lain-lain) yang penerapanya memerlukan latian
serta pembiasaan/ pembakuan.
3)
Melalui inkuri, kemampuan berpikir tadi diproses dalam
situasi yang benar-benar dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam
ragam alternatif.
4)
Membina mengenmbangkan sikap penasaran (ingin tahu
lebih jauh) dan cara berpikir objektif mandiri kritis analitis baik secara
indvidual maupun kelompok. Untuk ini program dan jalannya pelajaran hendaknya:
(1) memberikan kesempatan pengembangan individu dan siswa sertris, (2) dibina
suasana yang bebas dari tekanan, ketakutan atau paksaan
Beberapa
pedoman untuk dikemukakan menciptakan iklim inkuri (dalam kelas/kelompok) agar
berhasil dengan baik Jarolimek, (1974 : 199-200):
a.
Kelas diarahkakn kepada pokok permasalahn yang jelas
rumusnya patokan cara inkurinya serta arah tujuannya
b.
Agar dipahami bahwa tujuan inkuri adalah pengembangan
kamampuan membuat perkiraan serta proses berpikir. Peranan pertanyaan dan
kemampuan megemukakan pertanyaan (teknik bertanya dari guru akan sangat
menentukan keberhasilan inkuri)
c.
Hendaknya diberikan keluasan kepada siswa untuk
mengemukakan berbagi kemungkian (alternatif) dalam bertanya dan menjawab
d.
Bahwa cara menjawab dapat diutarakan dalam berbagai
cara sepanjang hal ini mengenaipermaslahn yang sedang di inkuri
e.
Bahwa pada umumnya inkuri manggali nilai-nilai atau
sikap, maka hendaknya hormatilah sistem nilai dan sikap siswa-siswa anda
f.
Guru hendaknya menjaga diri untuk tidak menjawab
sendiri pertanyaan-pertanyaan
g.
Usahakan selalu jawaban bersifat merata dan komparatif
Mengingat
pentingnya peran pertanyan guru, maka dianjurkan agar pertnyaan tersebut
disiapkan sebelumnya dan meliputi pertanyaan yang bersifat menjajagi, recall,
mencari penjelasan, mngklasifikasikan, pengarahan, melibatkan diri siswa,
mencari kesimpulan, besifat hipotesis, atau kepastian dan lain-lain
Berikut
ini contoh inkuri yang sederhana. Model dan langkah ini antara lain
diketengahkan oleh W. Bechtal sebagai berikut :
|
Lagkah
|
Kegiatan
|
|
a. Membina suasana yang responsif
b. Mengemukakan permasalahan yang akan di
inkuri. Catatan : dalam langkah ini harus tidak menjawab sendiri
pertanyaannya arahakan agar siswa dapat menjawabnya.
c. Pertanyaan-pertanyaan siswa
d. Merumuskan hipotesis
e. Menguji hipotesis
|
Guru :
menjelaskan arti dan proses inkuri. Dijelaskan bahwa dia akan pertanyaan yang
harus dijawab siswa dengan “iya atau tidak” memberikakan contoh hal tersebut
beberapa soal
Siswa :
memperhatikan penjelasan guru dan bertanya jika belum jelas/mengerti
Guru :
melemparkan permasalahan melalui cerita, film, gambar dan lain-lain. Kemudian
mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke arah mencari, perumusan dan memperjelas
permasalahan dari gambar tadi. Tanya
jawab berhenti bila masalah telah terumuskan dan jelas.
Siswa :
memperhatikan, mengalisis, merumuskan dan menjawab
Siswa :
menjukan pertanyaan yang bersifat mencari atau mengajukan informasi atau data
tentang masalah tersebut.
Guru : hanya
menjawab ya atau tidak atau seperlunya mengarahkan pertanyaan pada
permasalahannya
Siswa :
mencoba merumuskan hipotesis permasalahan tersebut ( tentang sebab atau
pemecahan masalah tersebut)
Guru :
membantu dan mengarahkan dalam bentuk pertanyaan pengarahan/ pancingan
Guru :
mengajukan pertanyaan yang bersifat meminta data, pembuktian dan data
Siswa : menjawab dan memberikan serta membuktikan
data dan kebenarannya
|
Langkah
di atas sempurna bila kemudian diakhiri dengan pengambilan kesimpulan dan
perumusan-perumusan. Kegiatan ini dikerjakan guru bersama siswa. Pendekatan
dengan inkuri dia tas ialah inkuri / diskoveri terpimpin serta prblem solving.
Untuk jelasnya ikutilah langkah-langkah dan gambaran problem solving dari
J.Dewey berikut ini :
|
Langkah-Langkah
Problem Solving
|
Kemahiran
yang diperlukan :
|
|
a. Merumuskan permasalahan
b. Menelaah permasalahan tersebut
c. Membuat / merumuskan hipotesis
d. Menghimpun, mengelompokkan data sebagai
bahan pembuktian hipotesis
e. Pembuktian hipotesis
f. Menentukan pilihan pemecahan masalah/
keputusan
|
a. Mengetahui dan merumuskan permasalahn
secara jelas
b. Gunakan pengetahuan untuk memperinci dan
mengalisis masalah tersebut dari berbagai sudut
c. Kecakapan berimijinasi / menghayati luas
lingkup, sebab akibat serta alternatif pemecahan masalah
d. 1. Kecakapan mencari dan menyusun data
2. memperagakan data dalam
bentuk bagan, gambar dan lain-lain
e. 1. Kecakapan menelaah dan membahas data
2. kecakapan menghubungkan
atau menhitung data terhadap hipotesis
3. keterampilan mrngambil
keputusan dan kesimpulan dari hal-hal di atas
f. 1. Kecakapn membuat alyernatif pemecahan
2. Kecakapan memilih
alternatif
3. kecakapan menilai pilihan
beserta perhitungan akibat-akibatnya kelak
|
Pada
metode problem solvig, peran guru dan siswa tetap seperti gambar diatas namun
guru dapat berbuat lain, tidak hanya sebagai penanya melainkan juga dapat
sebagaipmancing dan pemberi arah dengan memberikan hal-hal yang bersifat
menuntut jawaban ke arah yang diharapkan.
Berikut
ini contoh inkuri sederhana / singkat dalam bentuk tanya jawab :
G :
(guru) dalam rencana pelajrannya ingin mengemukakan masalah kejujuran. Untuk
itu akan digunakan inkuri singkat dengan memberikan suatu cerita/ contoh untuk
dipecahkan siswa. Misalnya tentang menemukan dompet di jalan. Masalah :
diapakan?
G :
kalau kalian ynag menemukan itu, apa yang akan kalian kerjakan/
S :
(siswa) 1: apakah dalam dompet itu ada isinya? Apa isinya? (mencari data)
G :
didalam ada uangnya banyak sekali, ada foto tetapi tidak ada tulisan pa-apa.
Sekarang coba kalian pecahkan, mau diapakan dompet ini bila kalian yang
menemukan? (kembali merumuskan masalah sambil memberi informasi)
S2 :
saya akan tanya dahulu orang sekitar tentang siapa yang baru saja lewat distu!
( masih mmencari data)
G :
bisa sudah kamu temukan keterangan tentang itu, apa langkah kamu selanjutnya?
S2 :
maka saya akan bisa menduga bahwa pemilik itu ialah dia yang fotonya ada di
dalam dompet itu atau bila dia bukan orangnya maka orang yang ada fotonya itu
pasti kenal dengan pemilik dompet! (mulai membuat hipotesis)
G :
mengapa kamu tidak menduga bahwa itu milik seorang wanita? (menguji hipotesis)
S3 :
sebab wanita tidak biasa membawa dompet, melainkan tas tangan.
...............dan
seterusnya....... dan seterunya............ dialog tanya jawab ini bisa
dilanjutkan sampai dicapai suatu kesimpulan yang diperkirakan mendekati
kebenarannya atau dicapai kesepakatan pemecahan dengan meyerahkan kepada polisi
dan lain-lain.
Namun
proses pelaksanaan kegiatan inkuri tetap dalam terbuka atau tanya jawab.
Bedanya bila dalam inkuri sederhana, data berdasarkan pengetahuan siap atau
perkiraan. Dalam inkuri yang lebih data di dukung oleh pendapat atau sumber
atau kenyataan.
Demikianlah empat contoh model belajar
mengajar ynag nampaknya bukanlah hal yang baru, tetapi sangat penting bagi guru
khususnyabagi anda untuk memperkaya metode pembelajaran tradisioanal yang lebih
menitikberatkan kepada pengajaran yang terpusat kepada guru ( teacher
oriented). Pengajaran IPS hendaknya lebih berorientasi kepada siswa. Kegiatan
belajar siswa aktif sangatlah mendukung pencapaian tujuan pengajaran IPS.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Bagi seseorang yang memilih jabatan guru sebagai
profesinya perlu terus berupaya untuk meningkatkan pengetahuan sertaketerampilan
dalm bidang kependidikan termasuk penguasaan terhadap model-model pembelajrann
serta terampil dalam memilih model pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan
topik-topik/ konsep tertentu kepada para siswanya
2.
Untuk memilih model pembeljaran yang efektif didasarkan
atas bebrapa faktor. Menurut Huoston, Clift, freiberg dan Wamer ada lima faktor
yang perlu dipertimbangkan yaitu : (a) ekspektasi pengajar terhadap kemampuan
siswayang aan dikembangkan, (b) keterampilan penngaja dalam mengelola kelas,
(c) jumlah waktu yang digunakan oleh siswa untuk melakukan tugas-tugas belajar
yang bersifat akademik, (d) kemampuan pengajar dalam mengambil keputusan
pembelajaran dan (e) variasi metode mengajar yang dipakai oleh pengajar
3.
Banyak model-model pembelajaran baik yang bersifat
khusus maupun yang bersifat umum. Begitu juga model pembelajaran yang
berhubungan dengan pembeljaran konsep dasar IPS. kosasihDjahiri (1978/1979)
dalam bukunya “ pengajaran Studi Sosial/IPS” mengemukakan beberapa model
belajar-mengajar IPS seperti : model lecturing yang disempurnakan, model
mengajar konsep, model ekspositori, model partipatori, model role playing,
model vct, model inkuri nilai, model inkuri dan sebagainya.
4.
Model lecturing merupakan model pmbeljaran yang banyak
kelemahan/ kekurangan-kekurangannya, karena dalam kegiatan pembelajaran gurulah
yang dominan. Hakikaknya memberi pelajaran denagn jalan ceramah, dimana guru
berada di muka kelas, memimpin dan menentukan isi dan jalanya pelajaran yang
dipandang baik/ perlu bagi siswanya. Kegiatan pembelajaran yang demikian itu
sebenarnya tidak cocok untuk pembelajaran IPS , karena dalam pembelajaran IPS
keaktifan, kreativitas siswa sangatlah diperlukan. Namun deikian guru umumnya
banyak menggunakan teknik ini karena : (A) kebiasaan kiprah umum, (b) kebiasaan
yang membaku padanya, (c) murah, mudah, dan cepat serta tidak memerlukan
faslitas yang banyak/susah, (D) ketidaktahuan akan cara/teknik lainnya, (e)
faktor jumlah program dan kuarang waktu. Oleh karena itu untuk mengurangi kelemahan/kekurangan
dalam model lecturing perlu adanya penyempurnaan dengan member sejumlah variasi
teknik belajar-mengajar.
5.
Model-model pembelajaran lainnya yang cocok/
efektif dalam melakukan kegiatan belajar
mengajar konsep dasar IPS di Sekolah Dasar (SD) dan dapat pula dilakukan guru,
antara lain ialah model eksposisi model role
playing model inkuri sederhana, dan lain- lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumaatmadja,Nursid
dkk.2007.materi pokok konsep dasar IPS.Jakarta:Universitas
Terbuka






0 komentar:
Posting Komentar