Kamis, 02 Juni 2016

Model Pembelajaran Analisis Konsep



 MAKALAH
“MODEL PEMBELAJARAN ANALISIS KONSEP”

 

Kelompok 13
Nurliana Mawaddah (150210204015)
Farisia Pratiwi Umami ( 150210204051)
Afan Muhammad Kharisma Islami (150210204069)
Dika Febrian Sanjaya ( 150210204131)



Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember

BAB I
PENDAHULUAN
Tujuan
a. Mengetahui pengembangan perbendaharaan model-model pembelajaran 
b. Megetahui pemilihan model belajar-mengajar yang efektif
c. Mengetahui model-model belajar-mengajar ( pembelajaran) analisis konsep dasar IPS

Rumusan Masalah
1. Factor apa saja yang harus di perhatikan dalam memilih modep pembelajaran yang efektif?
2. Apa saja model pembelajaran yang efektif dalam kegiatan belajar-mengajar Konsep Dasar IPS? 



BAB II
ISI
Model pembelajaran analisis konsep merupakan model pembelajaran yang sifatnya membelajarkan siswa mengenai bagaimana memproses informasi dengan menganalisis konsep. Dalam kegiatan belajar ini akan dikemukakan hal-hal sebagai berikut, yaitu :
1.      Perlunya bagi guru mengembangkan pembendaharaan model-model pembelajaran
2.      Pemilihan model belajar-mengajar yang efektif
3.      Model-model belajar-mengajar ( pembelajaran ) analisis konsep dasar IPS

A.PERLUNYA BAGI GURU MENGEMBANGKAN PEMBENDAHARAAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Bagi mereka yang Memandang bahwa mengajar merupakan suatu seni, ( kiat ) pribadi, maka penguasaan sejumlah model-model mengajar merupakan suatu seni ( kiat ) dari guru yang baik. Kita merasa bahwa guru seyogianya melihat model-model mengajar ini sebagai suatu jalan untuk mencapai tujuan yang bervariasi luas. Pada dasarnya tidak ada strategi mengajar yang tunggal yang dapat mencapai setiap tujuan. Guru yang bijaksana akan mengatur perbendaharaan strategi yang tepat untuk menghadapi macam masalah-masalah belajar tertentu yang dihadapinya. Misalknya model non-direktif akan berguna dalam mengajar orang untuk menjadi lebih terbuka dan sadar akan perasaan dirinya, bebas berinisiatif, dan membantu mengembangkan dorongan dan kepekaan untuk mendidik diri sendiri. Model laboratory akan berguna untuk memperbaiki keterampilan hubungan manusiawi.
Perbendaharaan model-model pada guru, merupakan sesuatu yang penting bila ia bertanggung jawab untuk mengajar banyak anak dalam beberapa bidang kurikulum. Bagi guru bidang studi ( spesialis mata pelajaran ) yang bertanggung jawab mengajarkan satu bidang tertentu kepada siswa yang relatif lebih matang, akan menghadapi tugas-tugas mengajar yang tidak dapat dilayani dengan satu model tunggal. Misalnya seorang guru bahasa Inggris dapat menggunakan beberapa model mengajar. Model sinektik mungkin digunakan dalam mengajar menulis kreatif , teknik-teknik Skinar digunakan untuk mengajarkan keterampilan, dan metode behavioral atau non-derektif untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman terhadap kemampuan sendiri dan keinginan untuk mengembangkan diri sendiri.
Mengembangkan pembendaharaan model mengajar berarti mengembangkan keluwesan, karena keluwesan ini akan merupakan landasan bagi pemahaman dan kemungkinan pemilihan dalam pemilihannya. Bagian dari keluwesan ini adalah professional, setiap guru akan menghadapi rentangan masalah yang luas, dan apabila ia memiliki perbendaharaan model-model mengajar secara luas, maka ia akan lebih mampu mengatasi masalah secara lebih kreatif dan imajinatif. Pada sisi pribadi, perbendaharaan menuntut kecakapan untuk menumbuhkan dan memperluas potensi seseorang, dan kemampuan untuk mengajar dengan cara-cara yang lebih bervariasi dan lebih menarik agar dapat menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan yang ada.
B.PEMILIHAN MODEL BELAJAR-MENGAJAR YANG EFEKTIF
            Dalam uraian sebelumnya telah di jelaskan mengenai model belajar yang berlaku umum yang diperkirakan lebih cocok untuk berbagai tujuan. Dalam uraian tersebut, istilah model belajar – mengajar digunakan dalam istilah yang berbeda, sementara itu beberapa penulis seperti Borich (1988) juga Huoston dkk ( 1989 ) menggunakan istilah strategi belajar-mengajar dalam pengertian yang sama untuk menggambarkan keseluruhan prosedur yang  sistematis untuk mencapai tujuan. Dalam uraian ini istilah strategi belajar-mengajar digunakan untuk menunjukkan siasat atau keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan tujuan pendidikan, sedangkan istilah model belajar-mengajar menurut Joyce dan Weil ( 1986 ) digunakan untuk menunjukkan sosok utuh konseptual dari aktivitas belajar-mengajar yang secara keilmuan dapat diterima dan secara operasional dapat dilakukan. Karena itu dalam model selalu terdapat tujuan dan asumsi sintakmatik, system social, system pendukung dan dampak instruksional dan pengiring.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model belajar-mengajar itu merupakan inti atau jantungnya strategi mengajar ( Udin Saripudin, 1994 : 151 )
            Walaupun  secara teoretik tersedia cukup banyak model belajar-mengajar yang dapat di pakai oleh pengajar dalam pelaksanaan pengajaran, mengajar seyogianya memililih model mana yang dianggap atau diperkirakan paling efektif
            Menurut Huoston, Clift, Freiberg, dan Wamer ( 1988 ) terdapat lima factor yang menentukan keefektivitas mengajar para pengajar, yaitu :
1.      Ekspektasi pengajar tentang kemampuan pebelajar ( siswa ) yang akan dikembangkan
2.      Keterampilan pengajar dalam pengelola kelas
3.      Jumlah waktu yang digunakan oleh pebelajar untuk melakukan tugas-tugas belajar yang bersifat akademik
4.      Kemampuan pengajar dalam mengambil keputusan pembelajaran, dan
5.      Variasi metode mengajar yang dipakai oleh pengajar
Secara umum, strategi belajar-mengajar dapat di kategorikan kedalam dua kelompok strategi, yakni :
1.      Strategi di arahkan pengajar ( Teacher-Directed Strategies )
2.      Strategi yang terpusat pada pebelajat ( Student-Directed Strategies )
Yang termasuk ke dalam kelompok strategi yang diarahkan kepada pengajar antara lain ceramah, Tanya jawab, dan Drill dan latihan, sedangkan yang termasuk kelompok strategi yang terpusat kepada pebelajar, antara lain belajar kelompok, penyingkapan yang terbimbing ( Guided Discovery )
Sedangkan Borich ( 1988 ) mengelompokkan strategi belajar-mengajar menjadi dua kelompok, yaitu Direct Instruktion Strategies dan Indirect Instuktion Strategies. Yang menjadi dasar pengelompokkan ini ialah jenis hasil belajar yang ingin dicapai. Dalam kerangkan ini, hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu :
1.      Fakta, hokum, dan urutan tindakan
2.      Konsep, pola dan abstraksi
Hasil belajar jenis pertama tercermin dari perilaku kognitif, efektif dan psikomotorik taraf rendah. Sedangkan hasil belajar jenis kedua tercermin dalam prilaku kognitif, efektif, dan psikomotorik taraf yang lebih tinggi.
Direct instruction strategies menurut Borich ( 1988 ; 143 ) sangat cocok untuk mengajarkan atau mencapai hasil belajar kategori pertama. Sedang untuk mencapai hasil belajar jenis kedua diperlukan indirect instruction strategies.
C.MODEL-MODEL BELAJAR-MENGAJAR ( PEMBELAJARAN ) ANALISIS KONSEP DASAR IPS
            Pada kegiatan belajar 1 dalam modul ini, sudah diperkenalkan beberapa macam model belajar-mengajar ( pembelajaran ) secara umum yang dikemukakan oleh Joyce dan Weil. Model pembelajaran yang disajikan, merupakan kerangka konseptual yang bertolak dari teori psikologi tertentu dan untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
            Selain model-model belajar-mengajar yang bersifat khusus mendasarkan diri pada suatu teori psikologi tertentu, terdapat juga model-model pembelajaran yang bersifat umum yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih umum. Dengan demikian model ini dapat digunakan lebih bebas ( Udin Saripudin, 1994 ; 140 ), yaitu :
1.      Model pengorganisasian pertemuan yang dapat digunakan baik dalam situasi situasi proses komunikasi melalui pertemuan umum maupun dalam situasi interkasi pembelajaran formal. Ke dalam kelompok ini termasuk bentuk siding umum, siding pleno, kerja kelompok, kelompok minat khusus, forum, penyajian situasi, penyajian konflik, penyajian skill, symposium, panel lokakarya, seminar, dan lain-lain.
2.      Model-model diskusi kelompok yang biasa digunakan dalam situasi pembelajaran kelompok secara bervariasi termasuk kedalam kelompok ini antara lain : model kelompok curah pendapat, model kelompok bebas, model studi kasus. Model kelompok silang pendapat, diskusi kelompok bebas, bermain peran, simulasi, bimbingan belajar, dan lain-lain.
Khusus untuk pengajarn IPS, Kokasih Djahiri ( 1978 / 1979 ) mengemukakan beberapa alternative model-model belajar-mengajar ( pembelajaran ) IPS, seperti model lecturing ( cermah yang disempurnakan ), model mengajarkan konsep, model ekspositori, model participatori, model prolr playing, model VCT, model inkuri nilai, model analisa dan penilaian nilai, model inkuiri, model kerja kelompok model studi proyek dan model percontohan.
Sudah barang tentu model belajar-mengajar mengacu kepada tujuan pengajaran IPS itu sendiri. Khusus untuk di Sekolah Dasar ( SD ), tujuan pengajaran IPS adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilmu pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rasional tentang gejala-gejala social, serta kemampuan tentang perkembangan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia di masa lampau dan masa kini. Khusus untuk pengajaran sejarah bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini sehingga siswa memiliki kebanggan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air ( Kurikulum Pendidikan Dasar ). Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar ( SD ) mempelajari berbagai kenyataan social dalam keidupan sehari-hari yang bersumber dari ilmu bumi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan tata Negara. IPS yang diajarkan di sekolah dasar lebih ditekankan kepada pemberian bekal awal, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan, nilai maupun moral pada siswa untuk dijadikan modal dalam mengenal dn memahami lingkungan sekitar sesuai dalam kaidah dan norma yang berlaku ( Lasmawan, 1995 ).
Ruang lingkup materi pengajaran pendidikan IPS di Sekolah Dasar ( SD ) meliputi masalah kehidupan manusia dan masyarakat ( luas maupun setempat). Sedang, ruang lingkup kajiannya meliputi kajian hal ihwal kehidupan diri manusia, perekonomian, kemasyarakatan, budaya, hokum, politik, kesejarahan, geografi ( fisis dan sosbud ) dan kehidupan keagamaan.
Dalam kurikulum pendidikan dasar, kajian pendidikan IPS meliputi :
1.      Hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan social, termasuk kajian tentang (a) keluarga, (b) masyarakat setempat, (c) uang, (d) tabungan, (e) pajak, (f) ekonomi setempat, (g) wilayah provinsi, (h) wilayah kepulauan, (i) pemerintahan daerah, (j) Negara RI, (k) pengenalan kawasan dunia.
2.      Yang berhubungan dengan sejarah, meliputi (a) sejarah lokan, (b) kerajaan-kerajaan di Indonesia, (c) tokoh dan peristiwa, (d) bangunan sejarah, (e) Indonesia pada zaman Portugis, Spanyol, Belanda, dan pendudukan Jepang, dan (f) beberapa peristiwa penting masa kemerdekaan.
Agar pencapaian tujuan pengajaran IPS terlaksana dengan baik diperlukan model belajar-mengajar yang dianggap dan diperkirakan paling efektif dalam menyajikan materi pengajaran IPS. Khususnya di Sekolah Dasar (SD ). Untuk ini akan kita bicarakan beberapa model pembelajaran IPS yang sudah / sering kita dengar, tetapi pelaksanannya yang masih perlu kita tingkatkan. Model-model belajar-mengajar/pembelajaran tersebut antara lain sebagai berikut (Kosasih Djahri, 1978/1979)
1.     Model lecturing (ceramah) yang disempurnakan
a.       Pangkal tolak berpikir dan permasalahannya
Lecturing pada hakikatnya memberikan pelajaran dengan jalan ceramah, di mana guru berada di muka kelas, memimpin dan menentukan isi dan jalannya pelajaran serta mentransfer (menuangkan) segala rencana pelajarannya (kebanyakan dengan lisan) yang menurutnya baik/perlu bagi para siswanya.
Teknik ini paling banyak kita gunakan dalam rapat-rapat, menyampaikan pelajaran,diskusi dan bahkan dalam lokakarya. Para guru umumnya banyak menggunakan teknik ini dikarenakan hal sebagai berikut :
1.      Kebiasaan kiprah umum
2.      Kebiasaan yang membaku pada dirinya
3.      Pertimbangan praktis; murah, mudah, dan cepat serta tidak memerlukan fasilitas-fasilitas yang banyak/susah
4.      Ketidaktahuan akan cara teknik lainnya
5.      Factor jumlah program dan kurangnya waktu
Masalahnya ialah: benarkah kita memahami dengan baik seluk beluk lecturing ini? Mengertikah kita akan pengertian lecturing ini? Tahukah tujuan dan sasaran yang harus serta akan dicapai oleh lecturing yang terorganisasi secara baik? Bilasemua ini bias kita hayati dengan sempurna, sebenarnya tidak semua teknik lecturing itu buruk. Apalagi bila hal tersebut dipadu dengan berbagai variasi teknik lainnya.
b.      Pada lecturing yang menjadi kelumrahan dalam mengajar
Memang tidak diragukan beberapa kelemahannya ialah antara lain keberhasilan, kemantapan dan kelestarian hasil pelajaran sangat diragukan. Terlebih-lebih bagi kelas rendahan. Sebab pada lecturing ini siswa di bawa dalam alam verbal (lisan) dan abstrak dengan tempo proses internalisasi (pemantapan/pemahaman) yang relative sangat singkat.
Rentetan ucapan guru yang demikian banyak (apalagi kalau bersifat kompleks) serta tempo bicara yang beruntun akan memaksa anak menangkap (melalui:telinga, mata, pikiran dan tangan untuk menulis) semampunya saja. Dan sebagai manusia, siswa ini memiliki daya mampu yang terbatas; yang kian lama kian menurun. Hamper tidak ada siswa yang memiliki daya mampu dengar, lihat, menulis daan berpikir selaama 2 x 45 menit secara konstan.
Lebih baik bila gaya mengajar dan situasi belajarnya monoton. Proses belajar adalah proses adaptasi, proses internalisasi dan interaksi serta akomodasi/konsep/data/fakta ke dalam diri (pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa).
Sejumlah factor dan persyaratan untuk ini perlu selalu kita perhatikan. Karena apabila tidak, proses ini hanya dengan verbal belaka sejumlah tahapan proses hilang atau kurang mantap. Dan bila dilakukan melalui membaca (dari papan tulis atau buku) maka apa yang diutarakan seorang ahli daya mampu baca, Prof. eve Malmoquist (bukunya: perceptive on reading research) sangat perlu kita perhatikan. Beliau menyatakan bahwa kemampuan membaca pada anak sangat berlainan dan tergantung pada tingkat usianya. Riset menunjukkan bahwa kemampuan membaca per kata berkisar antara ½ sekon (anak kelas 1SD) sampai ¼ sekon (mahasiswa). Daya baca ini kian lama kian menurun. Apabila diingat bahwa yang penting dalam membaca bukan membaca huruf-huruf, melainkan sambil menghayati dan berpikir.
Dapatkah kesemua hal di atas terpenuhi oleh teknik ceramah tradisional kita? Bahwa ini tidak dapat kita hapuskan sama seklai, memang dapat kita akui. Namun perlu direnungi kemanfaatan dan cara yang maksimal.
c.       Tujuan keuntungan dan kelemahan lecturing (G. Covendala : 1974)
1.      Tujuan dari lecturing, ssecara umum antara lain:
a.       Mentransfer sejumlah pengetahuan dari guru kepada siswa
b.      Memberikan ilham (inspirasi) kepada siswa tentang sesuatu untuk dipelajari lebih jauh
c.       Menerangkan, menjelaskan sesuatu dari bahan yang ada (buku, gambar, dan lain-lain)
d.      Mengemukakan hal yang tidak ada dalam buku/publikasi, dan lain-lain
e.       Memberikan gambaran (perspektif) umum dari keseluruhan bidang studi atau konsep
f.       Menuntun siswa mengenal struktur dasar (basic structure) pengetahuan/bidang studi (bila lecturing dijalankan dengan terorganisasi baik dan dibawakan baik)
g.      Menuntun siswa kea rah mengetahui; kerangka, sistematik, logika dan pengembangan struktur ilmu yang bersangkutan
h.      Mengajak siswa untukl berdialog ke dalam dirinya maupun dengan luar (guru, teman, lingkungan, dan lain-lain)
i.        Mengekspesikan hal-hal yang tidak dapat dinyatakan secara tertulis ataupun ungkapan yang sederhana (perlu keterangan, mimic dan lain-lain)
2.      Kelemahan/keburukannya, antara lain:
a.       Bersifat satu arah, sehingga lebih bersifat transferring (penuangan) ilmu
b.      Mono teknik dan mematikan kerja indra lain serta adanya penurunan daya indra yang diperlukan
c.       Penyamarataan daya mampu siswa, bahkan sering sama sekali tidak diperhatikan oleh guru (guru sentris)
d.      Bila persiapannya buruk, bahan tidak sistematis, sequence (tata urutan), konsep tidak diperhatikan, dan cara membawakannya jelek, maka pelaksanaannya menjadi kacau, menyulitkan siswa dan kehilangan arah
e.       Sering membosankan dan tidak menarik bagi siswa, sebab minat siswa tidak/kurang diperhatikan
f.       Pada lembaga keguruan (IKIP, SPG, atau lainnya) apa yang dikerjakan guru, cenderung ditiru siswa sebagai model
g.      Hasil belajar kurang baik/kurang mantap
3.      Kebaikan dan keuntungan lecturing, antara lain ialah
a.       Dapat mentransfer ide dan memberikan analisis sejelas-jelasnya
b.      Dapat melihat dan menyesuaikan diri dengan keadaan dan siswanya
c.       Sangat tepat untuk menyampaikan informasi
d.      Tepat untuk keadaan dimana siswa berbanding guru tidak seimbang, dengan disertai teknik dan variasi tambahan/pengayaan
e.       Dapat dengan segera mengetahui keadaan dan daya terima siswa, hasil transaksi belajar melalui cara-cara tertentu
f.       Bila terjadi kekeliruan penyampaian atau bahan, dapat segera diperbaiki
g.      Dengan variasi visual dapat lebih menarik dan hidup
h.      Sangat mudah dilaksanakannya, murah dan cepat
d.      Beberapa variasi kea rah menyempurnakan lecturing
1.      Maksud daripada hal ini kiranya jelas yaitu kita member sejumlah variasi teknik belajar-mengajar kedalam teknik lecturing untuk mengurangi kelemahan dari teknik ini dan menghidupkan suasana belajar-mengajar. Tentu saja patut kita perhatikan dalam memuaskan variasi ini, antara lain:
a.       Tujuan instruksional yang ingin kita capai
b.      Jenis konsep/informasi yang akan kita sajikan
c.       Keadaan siswa, waktu, fasilitas dan lingkungan/suasana belajar
Suatu catatan penting buat kita selaaku guru bahwa:
a.       Pada kelas lanjut (kels 4 SD ke atas) bahan bacaan sudah dapatditelaah oleh siswa itu sendiri. Kita hanya menunjukkan bagian-bagian yang ditelaah serta mencari alat pengontrol hasil bacaan tersebut
b.      Kekurangan waktu pelajaran tidak menjadi hal utama, sebab guru dapat memilih dan menentukan bagian mana yang akan diketengahkan dan bagian mana yang sekiranya dapat ditelaah siswa sendiri melalui sejumlah sumber dan kegiatan (sesuai dengan prinsip efektivitas dalam kurikulum baru)
c.       Siswa dan masyarakat serta lingkungan dan guru lain dengan segala potensinyaa kiranya dapat dimanfaatkaan dalam kegiatan varisi belajar-mengajar ini
Adapun variasi-variasi yang diketengahkan, bersifat umum dan jugement (perkiraan dalam waktu dan jumlah kegiatannya). Guru dapat menambah/menguranginya sesuai dengan hal-hal di atas tadi.
2.      Jenis/model variasi-variasi dalam ceramah
a.       Model variasi A:
Babak I – pembukaan dapat memilih alternative pilihan: antara 5 – 7 menit:
(1)   Obrolan ringan dan ilmiah popular bertautan dengan pelajaran
(2)   Teknik ekspositori/eksposisi; guru menuliskan atau memasang gambar atau judul, bagan, dan lain-lain
Berikan uraian singkat yang kelak akan menjadi pangkal tolak uraian.
(3)   Pada kelas rendahan SD kelas 1 – 4 atau kelas 1 SLTP) dapat diawali dengan permainan-permainan yang bertautan dijiwai oleh topic kita
(4)   Menampilkan sejumlah alat peraga yang akan digunakan dengan diberikan penjelasan seperlunya
(5)   Mengemukakan TIK dan pokok bahan unit pelajaran tersebut, serta sedikit penjelasan umum (overview)
(6)   Dialog atau Tanya jawab  penjajagan tentang entery behavior (prasyarat pengetahuan) dan maslah yang akan dibawkan. Cara ini kurang menyenangkan bagi siswa untuk menarik perhatikan.
Babak II – Fase mengemukakan informs pokok dengan jalan:
(1)   Memberikan ulasan umum atau pengarahan
(2)   Pokok uraian lengkap (informasi) melalui: contoh, gambar, bagan, slide, film, dan lain-lain
(3)   Pertelaan informasi secara verbal atau visual. Teknik dalam tahapan ini dapat berupa: (a) uraian verbal disusul visualisasi, konkretisasi, atau disusul uraian (disarankan dalam tahapan ini mulai dengan dialog/interaksi guru maupun murid-murid)
(4)   Pemantapan konsep dan penjajagan sementara atas hasil di atas dalam bentuk: Tanya jawab, pemecahan masalah, diskusi singkat atau inkuiri terpimpin bertemakan uraian di atas
(5)   Fase penyimpanan pelajaran: guru bersama siswa membuat kesimpulan-kesimpulan pelajaran tersebut
(6)   Pengayaan: dimana guru menarik bahan tambahan untuk pemantapan dan pengayaan pengetahuan siswa atau memberikan tugas pengayaan
(7)   Analisis hasil belajar dan keberhasilan teknik mengajar baik menggunakan teknik flanders maupun cara lain yang lebih tinggi sederhana
Catatan: visualisasi dapat dengan alat peraga, OHP, bagan dan lain-lain. Konskretisasi dalam bentuk perumpamaan atau percobaan contoh riil.
b.      Model B – secara visual dapat digambarkan sebagai berikut
5 – 10 menit          à lecturing sebagai pembukaan guru
30 – 45 menit        à simulasi (sosio drama), diskusi/kerja kelompok, Tanya jawab dan lain-lain
… menit                à lecturing penyimpulan atau penegasan konsep dari guru dan siswa diturutsertakan
c.       Model C – secara visual terlihat dalam bahan
Model ini adalah variasi berbagai jenis teknik yang memperkaya dan menghidupkan suasana belajar
10 %  X waktu                  à ulasan/pembukaan uraian singkat
20 % X waktu                   àkerja kelompok / klasikal atau studi kepustakaan atau diskusi kelas/kelompok
30 % X waktu                   àrole playing / sosio drama / simulasi, eksperimentasi atau peragaan dan lain-lain
10 % X waktu                   à penelaahan / penilaian hasil di atas secara klasikal / kelompok
20 % - waktu                     à lecturing / uraian / pembahasan guru
10 % - waktu                     à dialog / Tanya jawab guru murid dan pengambilan kesimpulan serta evaluasi
d.      Model ceramah dibawkan oleh ahli yang bersangkutan, sehingga suasana pelajaran sebagaimana keadaan dan gambar sebnernya. Misalnya ceramah / pelajaran sejarah tentang revolusi dibawakan oleh tokohnya yang diundaang khusus atau melalui video tape ( rekaman TV)
e.       Model E yang lumrah dikenal dengan nama team teaching yang baik dan terencana
e.Cara mempersiapkan dan melaksanakan lecturing
1.      Hendaknya diingat bahwa lecturing yang baik ialah yang:
a.       disipkan secara sempurna dan baik
b.      terorganisasi ( tersusun ) secara rapih dan sistematis
c.       dibawakan dengaan sempurna (jelas, menarik dan dimengerti)

Adapun langkah persiapannya ialah sebagai berikut:
a.       hayati dan tentukan TIK yang Anda kehendaki
b.      cari dan tentukan lingkup bahan serta pokok-pokok bahan tersebut
c.       pilihlah bahan mana yang akan Anda ambil untuk Anda dan mana untuk siswa
d.      tetapkanlah: (1) teknik-teknik dan media yang akan Anda gunakan (perubahan pelajaran), (2) teknik, media dan cara yang harus dikerjakan siswa Anda. Bila perlu dibuat secara terperinci dan tertulis (pedoman kerja siswa) tetapkan urutan dan kegiatannya
e.       usahakan Anda membuat cataan (semacam ihtisar) untuk diberikan kepada siswa Anda, mempunyai patokan dan arah serta mengoreksi atau belajarnya kelak
f.       persipan, pengadaan, pembuatan, atau peminjaman bahan peralatan buku; dan lain-lain. Bila perlu semua itu sudah siap di kelas sebelumnya
catatan : persiapan ini seyogyianya dibuat dalam buku khusus, atau map jepit agar kelak dapat diasakan evaluasi atau ditelaah kembali untuk penggunaan selanjutnya

2.      Cara pelaksanaan yang sebaiknya ialah antara lain:
a)      Perhatikanlah keadaan siswa dan suasana kelas sesaat sebelum Anda berbicara. Mulailah dengan babak pembukaan dan tidak langsung pada yang sulit
b)      Usahakanlah menggunakan berbagai variasi seperti diuraikan di atas tadi
c)      Bicaralah; jelas, keras, sistematis dan jangan terlalu cepat atau lambat
d)     Bagian-bagian yang penting atau sulit seyogianya diulangi, diberikan penekanan atau penjelasan lebih lanjut
e)      Dalam memberikan contoh agar diambil dari kenyataan riil lingkungan siswa dan hal yang popular
f)       Berbuatlah familier (tidak ada ketegangan, paksaan, dan lain-lain) agar pelajaran berjalan lancer dan hubungan guru siswa lebih intim
g)      Perhatikan wajah, suasana, mimic dan keadaan dalam menangkap pelajaran berjalan Anda. Berikan perhatian/bantuan khusus kepada siswa yang kurang mampu tanpa menyinggung harga dirinya
h)      Berikan kesempatan kepada siswa Anda untuk mengambil kegiatan secara aktif
i)        Jangan bicara sambil menulis atau membelakangi siswa
j)        Jangan kehilangan kontak dengan siswa Anda (Anda bicara terus seolah-oleh tidak ada siswa Anda)
k)      Pada saat Anda mengemukakan sesuatu istilah dengan ekspresi wajah, tangan, mimic, gerak, dan lain-lain atau gunakan alat peraga
l)        Berikan catatan-catatan singkat yang dibagikan sebelum/sesudah pelajaran
m)    Disaat siswa menyatakan pendapat/pertanyaan, berbuatlah bijaksana untuk; (1) tidakmematikan keberanian/inisiatif, (2) tidak menjawab langsung (gunakan pertanyaan inkuri)
n)      Berbuatlah sebagai pendorong semangat kemauan belajar dengan jalan membuka kesempatan-kesempatan berpartisipasi dan hadiah (pujian dan lain-lain)
o)      Jangan membawa masalah/kesulitan/kesenangan/kedudukan pribadi ke dalam kelas, karena akan mempengaruhi suasana dan jalannya pelajaran
Akhirnya ingin kami ketengahkan sejumlah kesalahan umum dalam lecturing yang umum dilakukan guru ialah sebagaimana dikemukakan oleh C. Coverdale, sebagai berikut:
1)      Bahwa para siswa banyak yang sama sekali tidak dapat mengikuti apa yang dibicarakan/diajarkan
2)      Guru kehilangan kontak dengan siswanya. Dia bicara sendiri asal programnya selesai
3)      Cara membawakan dan bicaranya monoton. Sehingga dalam waktu singkat siswa menjadi bosan, gelisah, gaduh atau ngantuk
4)      Siswa dipaksa hanya menggunakan indra tertentu saja (mendengar atau baca)
5)      Selama jam pelajaran tidak terjadi proses belajaran yang wajar, proses berdialog dalam diri, pikiran dan perasaan siswa tidak sempat terjadi karena kesalahan langkah dan cara dari guru
6)      Adanya penyamarataan keadaan kemampuan siswa
Kesemua itu menurut C. Coverdale merupakan penghamburan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya dari guru, siswa, masyarakat dan Negara
Demikian semoga Anda dapat menghayati pokok uraian tadi serta mulai mencobanya
Catatan : khusus team teaching dapat terjadi dalam:
1)      Programnya, dimana programnya dibantu oleh sejumlah guru
2)      Pelaksaan pengajaran: dimana guru inti dengan tim lainnya saling isi mengisi dan dukung mendukung. Menjaga hal yang tumpang tindih dan bertentangan, minimal antartim ada pembicaraan persiapan/pendahuluan sebelumnya. Isi mengisi ini tidak perlu seperti babak-babak sandiwara, sebaiknya saling mengisi seecara spontan, terutama bila salah seorang ada hal yang kurang paham/jelas maka anggota tim lain maju. Sehingga benar-benar seperti isi mengisi dan beruntun
2.Model ekspositori /eksposisi
Pengertian       :ekspositori meupakan cara pengajaran yang diawali dengan peragaan dan diiringi dengan uraian/ulasan penjelasan lisan (Kokasih Djahiri, 1978/1979: 101)
Manfaat dari cara ini ialah antara lain : pelajaran lebih hidup tidak hanya abstrak secara verbal belaka, siswa dapat ditarik perhatiannya melalui visualisasi peragaan serta mulai menghidupkan perhatian imaginasi atau terkaannya dan di saat mndapat penjelasana/ulasan maka timbul dialog dalam dirinya antara apa yang diduga/dipikirkannya dengan penjelasan tersebut, suasana kelas bukan terpusatkan kepada diri pribadi guru melainkan kepada bahan pelajaraan melalui peragaan tersebut, bahkan dapat menciptakan suasana yang interaktif bilamana ulasan itu juga dimintakan (secara selingan) dari siswa
Langkah kegiatan ekspositori, sebagai berikut:
a.       Fase persiapan Guru: dimana guru mempersiapkan pelajaran sebagaimana biasanya, juga memilih alat bantu/medianya yang akan digunakan selama jam pelajaran secara babak demi babak. Fleksibilitas alat bantu dan uraian hendaknya dipersiapkan untuk menampung usul dan keinginan siswa
b.      Eskpositori I
Guru memasang/menuliskan judul topic pelajaran dan menjelaskan tujuan instruksional yang ingin dicapainya
c.       Ekspositori II
1)      Guru atau di bantu siswa memasang alat bantu yang diperuntukkan uraian pembukaan tema pelajaran tersebut
2)      Siswa mulai memperhatikan dan menduga-duga isi peragaan tersebut
3)      Guru memberikan ulasan singkat, jelas dari peragaan tersebut, atau uraian/ulasan tema yang di dukung oleh peraga tersebut
4)      Siswa menanggapi, bertanya atau mengajukan pendapatnya. Dialogf ini berlangsung terus sampai guru beranggapan dapat dilanjutkannya dengan babak berikutnya
d.      Ekspositori III
1)                  Gambarannya seperti dalam tahapan di atas dengan catatan  agar suasana belajar aktif dapat lebih dihidupkan melalui: (a) pertanyaan pancingan, (b) membuka kesempatan berpikir dan mengemukakan tanggapan lalu diskusi kecil yang terarah
2)                  Tahapan ini terus demikian, tahap demi tahap sampai guru beranggapan bahwa pokok alasannya selesai. Dianjurkan agar siswa pun diberikan kesempatan bereksposisi seperti memberikan skema atau simulasi atau dramatisasi singkat dan lain-lain
e.       Penutup
Merupakan tahap pengambilan kesimpulan-kesimpulan baik dari guru maupun dari siswa. Namun bagaimanapun juga dianjurkan agar guru akhirnya memberikan pengarahan/kesimpulan
f.       Follow up (kelanjutan)
Beberapa pemberian kegiatan remidi (tambahan penutupan bagi yang kurang), pengayaan (pemantapan tambahan bagi yang sudah mengerti) atau melakukan sesuatu yang merupakan pengetrapan dari apa yang diutarakan. Semua ini dilakukan di dalam kelas ( bila waktu mengizinkan ) atau di luar kelas dengan pedoman yang jelas, terperinci dan dimengerti siswa dan tentunya usaha ini mendapatkan penghargaan dari guru (nilai atau pujian dan lain-lain.
3. Model Role Playing (Bermain  Peran)
a. Penjelasan umum
Role playing sebagai media atau teknik belajar sungguh besar peranan nya. Sebab dengan teknik ini di samping pengangkatan sesuatu keadaan/kejadian ke dalam ruang kelas , juga sebagai perasaan , keadaan dan perbuatan daripada hal tersebut akan turut dirasakan (dialami) siswa pelakunya.
Role diartikan oleh Marsha Weil dan Bruce Joyce sebagai serangkaian urutan perasaan, kata-kata dan pembuatan yang berpola, yang unik dan merupakan cara cara yang membaku yang bertautan dengan yang lainnya/orang lain.
Arti Role secara harfiah ialah peranan. Role Playing biasanya diartkan memainkan peranan atau berperan sesuatu. Melalui role playing si pelaku (siswa) akan memerankan /memainkan tersebut seperti adanya. Apabila role playing  ini di persiapkan secara baik sehingga benar-benar mendekati kejadian yang sebenar nya.  Untuk data, fakta,dan kejadian sosial hal ini sungguh sangat baik.
b. Tujuan dan kebaikan dari role playing
            Menurut Fanis Shafrel & George Shafrel dalam bukunya “Role Playing for Social Values” mengemukakan sejumlah tujuan yang merupakan  kebaikan dari teknik in, ialah :
1)      Untuk menghayati sessuatu/hal/kejadian yang sebenarnya dalam realita kehidupan.
2)      Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya.
3)      Untuk mempertajam indra dan rasa siswa terhadap sesuatu.
4)      Sebagai penyalur/pelepasan tension dan perasaan-perasaan.
5)      Sebagai alat mendiagnosis keadaan, kemampuan, dan kebutuhan siswa.
6)      Ke arah pembentukan konsep secara mandiri (self concept)
7)      Menggali peran-peran daripada seseorang dalam suatu kehidupan/kejadian/keadaan.
8)      Menggali dan meneliti nilai-nilai (norma-norma) dan peran budaya dalam kehidupan.
9)      Membantu siswa dalam mengklarifikasikan (memperinci,memperjelas ) pola berpikir, berbuat danketerampilan nya dalam membuat / mengambil keputusan ( decission making menurut caranya sendiri)
10)  Media pembinaan struktur sosial dansistem nilai lingkungan nya.
11)  Membina siswa dalam : kemampuan memecahkan masalah (problem solving behavior) , berpikir kritis analitis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dan lain-lain.
12)  Melatih anak (siswa) dalam mengendalikan dan memperbarui, perasaan, cara berpikirnya dan perbuatannya.
Catatan : Untuk mencapai tujuan di atas tersbut secara baik seyogianya guru memahami benar teknik-teknik mencapai hal tersebut, misalnya teknik menggali perasaan, teknik memotivasi kemauan siswa dan lain-lain.

Langkah-Langkah dari Role Playing
Shaftel mengemukakan sembilan langkah, sebagai berikut :
Urutan Langkah
Kegiatan dan Pelakunya
1.      Penjelasan Umum
1.1  Mencari atau mengemukakan  permasalahan (oleh guru atau bersama siswa).
1.2  Memperjelas masalah/topik tersebut (guru)
1.3  Mencari bahan-bahan , keterangan atau penjelasan lebih lanjut (bila perlu tunjukkan sumber-sumbernya) oleh guru dan siswa.
1.4  Menjelaskan tujuan, arti dari role playing (oleh guru)
2.       Memilih para pelaku
2.1. menganalisis peran-peran yang harus diperankan (guru bersama siswa)
2.2. memilih para pelakunya (siswa dibantu guru)
3.      Menentukan obsever
3.1. menentukan obsever dan menjelaskan tugas peran nya (guru dan siswa)
4.      Menentukan jalan cerita
4.1. gariskan jalannya cerita
4.2. tegaskan pera-peran yang ada di dalamnya
4.3. berikan gambaran situasi keadaan cerita tersebut (guru dan siswa)
5.      Pelaksanaan (main)
5.1. mulai melakonkan permainan tersebut (siswa).
5.2. menjaga agar setiap peran berjalan (siswa).
5.3. jagalah agar babakan-babakan terlihat jelas (siswa)
6.      Diskusi dan penilaian
6.1. telah setiap peran ,posisi, dan permainan.
6.2. diskusikan hal tersebut berikut saran perbaikan.
6.3. siapkan permainan ulangan nya
7.      Permainan ulangan
7.1.seperti sub 6.
8.      Diskusi dan penelaahan
8.1. Sepesrti sub 6
9.      Mempertaruhkan pikiran, pengalaman, dan membuat kesimpulan-kesimpulan
9.1. setiap pelaku mengemukakan pengalaman perasaan dan pendapatnya
9.2. observer mengemukakan penilaian pendapat (juga di fase 6 dan 8).
9.3 siswa dan guru membuat kesimpulan-kesimpulan da merangkainya dengan topik / konsep yang sedang di pelajarinya

Catatan :
Bila hal ini dierapkan pada situasi pelajaran di indonesia maka sebelum dan pada fase 1 harus ada tambahan nya, ialah persiapan guru mencari bahan atau cerita untuk role playing segaris dengan tema yang dihadapinya. Kemudian pada fase ke-1 guru setelah menerangkan isi topik pelajaran mengungkapkan cerita bahan role playing tersebut. Dan bila cerita untuk role playing itu akan dicari atau dibuat siswa , maka guru hendaknya memberikan petunjuk cara pembuatan dan sumber secara jelas serta memberikan waktu untuk hal tersebut. Cara terbaik adalah guru memberikan bahan garis besarnya saja serta tuntutan untuk selanjutnya siswalah yang membuat dan menyelesaikannya.
Berikut ini gambaran role playing secara sederhana dan singkat :
Contoh :
            Role playing ini permainan untuk menggali nilai-nilai (value clarification) yang siswa memiliki tentang sesuatu dan sifat yang terbuka (open ended). Siswa dihadapkan kepada sesuatu  yang belum ditentukan penilaian/keputusannya dan dihadapkan untuk memainkan hal ini serta mengambil keputusan sendiri sesuai dengan nilai dan konsep yang dimilikinya. Kelak teman-temannya dapat memberikan pendapat lain untuk kemudian direnungkan (atau bahan renungan bagi lainnya bila akan role playing ulangan). Maka karenanya melalui role playing bahan di bawah ini sekaligus siswa diharapkan untuk membentuk konsep secara mandiri (self concept) membuat keputusan (decission making) dan mengungkapkan sistem nilai yang ada dalam dirinya yang tentunya berpatokan kepada kiprah umum serta juga dilatih bermain dengan sesamanya. Pemberian saran dari temannya akan membiasakan dirinya untuk mawas diri (intropeksi) dan membuka diri (lapang dada).
            Topik pelajaran misalnya masalah “kejujuran” (saripati dari konsep hukum atau perdagangan dalam ekonomi atau lainnya) misalnya cerita sudah disiapkan oleh guru.
            Fase 1 : guru mengawali pelajaran dengan mengemukakan bahwa pada jaim itu ia akan mengemukakan masalh kejujuran sebagai hal yang penting dalam kehidupan. Guru mengemukakan dalam apa saja kejujuran itu diperlukan. Selang sekian menit guru mengajak siswa mendengarkan suatu cerita singkat sebagai berikut:
            “Umar disuruh ibunya pergi ke pasar untuk membeli sesuatu .  Dalam perjalanan pulang dia menemukan sebuah dompet. Dipungutnya dompet itu dan dibukanya. Disamping surat-surat penting terlihat pula isi uangnya banyak sekali. Sambil berjalan,Umar berpikir tentang hal tersebut, sementara itu dari arah berlawan nampak seseorang berjalan agak tergesa dengan pandangan matanya kian kemari bagaikan mencari sesuatu yang hilang. Umar melihat hal ttersebut.
            Selesai membacakan cerita ini, guru kemudian menjelaskan bahwa cerita ini dapat ditambah variasinya oleh siswa serta harus diselesaikan bagaimana kesudahan dari cerita tadi. Siswa disuruh berpikir sejenak baik secara sendiri-sendiri maupun kelompok. Selang beberapa lama guru meminta perhatian mereka kembali dan mengemukakan maksudnya untuk melakukan role playing.
            Guru menjelaskan makna dan cara dari hal tersebut. Lalu lakukanlah petunjuk langkah-langkah role playing dari Shaftel di atas secara seksama. Jalankan hal ini dua tiga kali dengan pemain yang berbeda. Maksudnya untuk lebih mengetahui bagaimana siswamemberi isi cerita tersebut serta mengambil penyelesaiannya, sehingga nanti dalam membuat kesimpulan baik siswa maupun guru dapat mengambil beberapa perbandingan. Barangkali nanti dari cara penyelesaiannya akan ada yang mengembalikan dompet itu kepada polisi, ada yang langsung, ada yang mengembalikan dengan hadiah dan lain-lainnya.
            Pada babak kesimpulkan guru mengarahkan berbagai alternatif ke arah menjalankan kejujuran.
4. Model Inquiry (inkuri)
a. Pengertian  : inkuri adalah salah satu cara belajar yang bersifat mencari sesuatu secara kritis, analitis, argumental (ilmiah) dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan, karena didukung oleh data.
Inkuri dapat dilakukan secara individu, kelompok atau klasikal, serta dapat dengan catat tanya jawab diskusi atau kegiatan di dalam maupun di luar kelas.
Perumusan di atas hanyalah sekadar tuntutan kepada kita untyk memiliki gambaran yang meyeluruh tentang inkuri tersebut. Untuk jelasnya dapat kita gambarkan sebagai berikut:  bahwa pada kehidupan sehari-hari sering kita dihadapkan kepada sesuatu hal masalah. Dan kita dihadapkan kepada: (1) mempercayai hal tersebut atau tidak, (2) keharusan mengambil sikap, (3) mengambil keputusan.
Contoh:
            Anda akan berjalan munuju ke suatu tempat, tetapi ada berita bahwa jembatan yang menuju tempat tersebut putus, percayakah anda akan hal itu? Bagimana caranya agar bisa percaya dan yakin akan berita itu? Dan jalan apa yang anda tempuh ke tempuh ke tempat tujuan tersebut?
            Pada contoh di atas, kita kita akan menemukan orang yang begitu mendengar lalu percaya ih tanpa menyakan lebih jauh. Ada juga orang yang percaya denga meminta keterangan lebih jauh, selai itu ada juga yang ragu serta ingin meyakinkannya dengan cara sendiri. Pengajarn IPS tidak menginginkan melahirkan tipe manusia yang pertama (percaya begitu saja), paling tidak dia harus meminta keterangan dan megolah kebenaran berita tersebut. Dan lebih ideal lagi dia hars meyakinkannya, sehingga dia menjadi anusia yang kritis dan memanfaatkan potensinya serta percaya akan diri sendiri.
Gejolak kehidupan masyarakat sungguh cepat berubahnya, maka siswa hendaknya dibekali senjata hidup yang ampuh ialah kemampuan mengkap sesuatu. Inkuri antara melatih hal tersebut. Inkuri adalah teknik pemencahan masalah secara ilmiah.
b. inkuri atau dicoveri dengan segala variasinya serta problem solving (pemecahan masalah), dalam IPS dianggap sebagai cara ilmiah yang paling cocok untuk dipergunakan sebagai cara kerja (metode) IPS. Sejumlah sarjana tidak membedakan pendekatan maupun langkah-langkah dari kedua metode tersebut (inkuri dengan problem solving)
namun Thorstone dalam bukunya Scaling Attitude mengemukakan bahwa hal yang penting dalam inkuri ialah siswa mencari sesuatu sampai tingkat “yakin”. Tingkatan mana dicapai melalui dukungan data, analisis, interpretasi serta pembuktiannya. Bahkan dalam inkuri akan dicapai tingkat pencapaian alternatif pemecahan masalah.
Problem solving lebih menitikberatkan kepada terpecahnya sesuatu masalah yang menurut perkiran rasio logis benar atau tepat perbedaan lain ialah tingkatan dan cara kerjanya dalm inkuri tingkatannya lebih tinggi serta lebih komplikatif (ruwet). Inkuri diterima para ahli IPS  sebagai bendera dari IPS , maka mereka sangat mengajurkan cara kerja ini untuk banyak dipergunakan dalam pelajran IPS dengan berbagai jenis tingkatan (dari yang sederhana sampai tingkat yang paling tinggi). Inkuri yang paling sederhana menggunakan tanya jawab klasikal, di mana peran aktif tetap di tangan siswa. Guru hanya mengarhkan, membina, memancing jawaban dan lain-lain. Inkuri sedehana ini juga bisa dalam bentuk kegiatan perbuatan secara sederhana.
c. tujuan/kegunaan inkuri, ialah
1)      mengembangkan sikap, keterampilan siswa untuk mampu memcahakan masalah serta mengambil keputusan secara dan mandiri
2)      mengembangkan kemampuan berpikir para siswa proses berpikir terdiri dari serentetan keterampilan-keterampilan (mengumpulkan informasi, membaca data, dan lain-lain) yang penerapanya memerlukan latian serta pembiasaan/ pembakuan.
3)      Melalui inkuri, kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi yang benar-benar dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam ragam alternatif.
4)      Membina mengenmbangkan sikap penasaran (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif mandiri kritis analitis baik secara indvidual maupun kelompok. Untuk ini program dan jalannya pelajaran hendaknya: (1) memberikan kesempatan pengembangan individu dan siswa sertris, (2) dibina suasana yang bebas dari tekanan, ketakutan atau paksaan
Beberapa pedoman untuk dikemukakan menciptakan iklim inkuri (dalam kelas/kelompok) agar berhasil dengan baik Jarolimek, (1974 : 199-200):
a.       Kelas diarahkakn kepada pokok permasalahn yang jelas rumusnya patokan cara inkurinya serta arah tujuannya
b.      Agar dipahami bahwa tujuan inkuri adalah pengembangan kamampuan membuat perkiraan serta proses berpikir. Peranan pertanyaan dan kemampuan megemukakan pertanyaan (teknik bertanya dari guru akan sangat menentukan keberhasilan inkuri)
c.       Hendaknya diberikan keluasan kepada siswa untuk mengemukakan berbagi kemungkian (alternatif) dalam bertanya dan menjawab
d.      Bahwa cara menjawab dapat diutarakan dalam berbagai cara sepanjang hal ini mengenaipermaslahn yang sedang di inkuri
e.       Bahwa pada umumnya inkuri manggali nilai-nilai atau sikap, maka hendaknya hormatilah sistem nilai dan sikap siswa-siswa anda
f.       Guru hendaknya menjaga diri untuk tidak menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan
g.      Usahakan selalu jawaban bersifat merata dan komparatif
Mengingat pentingnya peran pertanyan guru, maka dianjurkan agar pertnyaan tersebut disiapkan sebelumnya dan meliputi pertanyaan yang bersifat menjajagi, recall, mencari penjelasan, mngklasifikasikan, pengarahan, melibatkan diri siswa, mencari kesimpulan, besifat hipotesis, atau kepastian dan lain-lain
Berikut ini contoh inkuri yang sederhana. Model dan langkah ini antara lain diketengahkan oleh W. Bechtal sebagai berikut :
Lagkah
Kegiatan
a.       Membina suasana yang responsif








b.       Mengemukakan permasalahan yang akan di inkuri. Catatan : dalam langkah ini harus tidak menjawab sendiri pertanyaannya arahakan agar siswa dapat menjawabnya.






c.       Pertanyaan-pertanyaan siswa







d.      Merumuskan hipotesis






e.       Menguji hipotesis
Guru : menjelaskan arti dan proses inkuri. Dijelaskan bahwa dia akan pertanyaan yang harus dijawab siswa dengan “iya atau tidak” memberikakan contoh hal tersebut beberapa soal

Siswa : memperhatikan penjelasan guru dan bertanya jika belum jelas/mengerti

Guru : melemparkan permasalahan melalui cerita, film, gambar dan lain-lain. Kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke arah mencari, perumusan dan memperjelas permasalahan dari gambar tadi.  Tanya jawab berhenti bila masalah telah terumuskan dan jelas.

Siswa : memperhatikan, mengalisis, merumuskan dan menjawab

Siswa : menjukan pertanyaan yang bersifat mencari atau mengajukan informasi atau data tentang masalah tersebut.

Guru : hanya menjawab ya atau tidak atau seperlunya mengarahkan pertanyaan pada permasalahannya

Siswa : mencoba merumuskan hipotesis permasalahan tersebut ( tentang sebab atau pemecahan masalah tersebut)

Guru : membantu dan mengarahkan dalam bentuk pertanyaan pengarahan/ pancingan

Guru : mengajukan pertanyaan yang bersifat meminta data, pembuktian dan data

Siswa  : menjawab dan memberikan serta membuktikan data dan kebenarannya


Langkah di atas sempurna bila kemudian diakhiri dengan pengambilan kesimpulan dan perumusan-perumusan. Kegiatan ini dikerjakan guru bersama siswa. Pendekatan dengan inkuri dia tas ialah inkuri / diskoveri terpimpin serta prblem solving. Untuk jelasnya ikutilah langkah-langkah dan gambaran problem solving dari J.Dewey berikut ini :
Langkah-Langkah Problem Solving
Kemahiran yang diperlukan :
a.       Merumuskan permasalahan


b.      Menelaah permasalahan tersebut



c.       Membuat / merumuskan hipotesis



d.      Menghimpun, mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis


e.       Pembuktian hipotesis






f.       Menentukan pilihan pemecahan masalah/ keputusan
a.       Mengetahui dan merumuskan permasalahn secara jelas

b.      Gunakan pengetahuan untuk memperinci dan mengalisis masalah tersebut dari berbagai sudut

c.       Kecakapan berimijinasi / menghayati luas lingkup, sebab akibat serta alternatif pemecahan masalah

d.      1. Kecakapan mencari dan menyusun data
2. memperagakan data dalam bentuk bagan, gambar dan lain-lain

e.       1. Kecakapan menelaah dan membahas data
2. kecakapan menghubungkan atau menhitung data terhadap hipotesis
3. keterampilan mrngambil keputusan dan kesimpulan dari hal-hal di atas
f.       1. Kecakapn membuat alyernatif pemecahan
2. Kecakapan memilih alternatif
3. kecakapan menilai pilihan beserta perhitungan akibat-akibatnya kelak



Pada metode problem solvig, peran guru dan siswa tetap seperti gambar diatas namun guru dapat berbuat lain, tidak hanya sebagai penanya melainkan juga dapat sebagaipmancing dan pemberi arah dengan memberikan hal-hal yang bersifat menuntut jawaban ke arah yang diharapkan.
Berikut ini contoh inkuri sederhana / singkat dalam bentuk tanya jawab :
G         : (guru) dalam rencana pelajrannya ingin mengemukakan masalah kejujuran. Untuk itu akan digunakan inkuri singkat dengan memberikan suatu cerita/ contoh untuk dipecahkan siswa. Misalnya tentang menemukan dompet di jalan. Masalah : diapakan?
G         : kalau kalian ynag menemukan itu, apa yang akan kalian kerjakan/
S          : (siswa) 1: apakah dalam dompet itu ada isinya? Apa isinya? (mencari data)
G         : didalam ada uangnya banyak sekali, ada foto tetapi tidak ada tulisan pa-apa. Sekarang coba kalian pecahkan, mau diapakan dompet ini bila kalian yang menemukan? (kembali merumuskan masalah sambil memberi informasi)
S2        : saya akan tanya dahulu orang sekitar tentang siapa yang baru saja lewat distu! ( masih mmencari data)
G         : bisa sudah kamu temukan keterangan tentang itu, apa langkah kamu selanjutnya?
S2        : maka saya akan bisa menduga bahwa pemilik itu ialah dia yang fotonya ada di dalam dompet itu atau bila dia bukan orangnya maka orang yang ada fotonya itu pasti kenal dengan pemilik dompet! (mulai membuat hipotesis)
G         : mengapa kamu tidak menduga bahwa itu milik seorang wanita? (menguji hipotesis)
S3        : sebab wanita tidak biasa membawa dompet, melainkan tas tangan.
...............dan seterusnya....... dan seterunya............ dialog tanya jawab ini bisa dilanjutkan sampai dicapai suatu kesimpulan yang diperkirakan mendekati kebenarannya atau dicapai kesepakatan pemecahan dengan meyerahkan kepada polisi dan lain-lain.
Namun proses pelaksanaan kegiatan inkuri tetap dalam terbuka atau tanya jawab. Bedanya bila dalam inkuri sederhana, data berdasarkan pengetahuan siap atau perkiraan. Dalam inkuri yang lebih data di dukung oleh pendapat atau sumber atau kenyataan.
 Demikianlah empat contoh model belajar mengajar ynag nampaknya bukanlah hal yang baru, tetapi sangat penting bagi guru khususnyabagi anda untuk memperkaya metode pembelajaran tradisioanal yang lebih menitikberatkan kepada pengajaran yang terpusat kepada guru ( teacher oriented). Pengajaran IPS hendaknya lebih berorientasi kepada siswa. Kegiatan belajar siswa aktif sangatlah mendukung pencapaian tujuan pengajaran IPS.












BAB III
KESIMPULAN
1.      Bagi seseorang yang memilih jabatan guru sebagai profesinya perlu terus berupaya untuk meningkatkan pengetahuan sertaketerampilan dalm bidang kependidikan termasuk penguasaan terhadap model-model pembelajrann serta terampil dalam memilih model pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan topik-topik/ konsep tertentu kepada para siswanya
2.      Untuk memilih model pembeljaran yang efektif didasarkan atas bebrapa faktor. Menurut Huoston, Clift, freiberg dan Wamer ada lima faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu : (a) ekspektasi pengajar terhadap kemampuan siswayang aan dikembangkan, (b) keterampilan penngaja dalam mengelola kelas, (c) jumlah waktu yang digunakan oleh siswa untuk melakukan tugas-tugas belajar yang bersifat akademik, (d) kemampuan pengajar dalam mengambil keputusan pembelajaran dan (e) variasi metode mengajar yang dipakai oleh pengajar
3.      Banyak model-model pembelajaran baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum. Begitu juga model pembelajaran yang berhubungan dengan pembeljaran konsep dasar IPS. kosasihDjahiri (1978/1979) dalam bukunya “ pengajaran Studi Sosial/IPS” mengemukakan beberapa model belajar-mengajar IPS seperti : model lecturing yang disempurnakan, model mengajar konsep, model ekspositori, model partipatori, model role playing, model vct, model inkuri nilai, model inkuri dan sebagainya.
4.      Model lecturing merupakan model pmbeljaran yang banyak kelemahan/ kekurangan-kekurangannya, karena dalam kegiatan pembelajaran gurulah yang dominan. Hakikaknya memberi pelajaran denagn jalan ceramah, dimana guru berada di muka kelas, memimpin dan menentukan isi dan jalanya pelajaran yang dipandang baik/ perlu bagi siswanya. Kegiatan pembelajaran yang demikian itu sebenarnya tidak cocok untuk pembelajaran IPS , karena dalam pembelajaran IPS keaktifan, kreativitas siswa sangatlah diperlukan. Namun deikian guru umumnya banyak menggunakan teknik ini karena : (A) kebiasaan kiprah umum, (b) kebiasaan yang membaku padanya, (c) murah, mudah, dan cepat serta tidak memerlukan faslitas yang banyak/susah, (D) ketidaktahuan akan cara/teknik lainnya, (e) faktor jumlah program dan kuarang waktu. Oleh karena itu untuk mengurangi kelemahan/kekurangan dalam model lecturing perlu adanya penyempurnaan dengan member sejumlah variasi teknik belajar-mengajar.
5.      Model-model pembelajaran lainnya yang cocok/ efektif  dalam melakukan kegiatan belajar mengajar konsep dasar IPS di Sekolah Dasar (SD) dan dapat pula dilakukan guru, antara lain ialah model eksposisi model role playing model inkuri sederhana, dan lain- lainnya. 


DAFTAR PUSTAKA
Sumaatmadja,Nursid dkk.2007.materi pokok konsep dasar IPS.Jakarta:Universitas Terbuka
 











 
 



 

0 komentar:

Posting Komentar