Sabtu, 04 Juni 2016

Penanaman Nilai Kebersamaan Melalui Metode Pembelajaran Cooperative Tipe Numbered Head Together



PENANAMAN NILAI KEBERSAMAAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER di SDN SUMBER CANTING 02
MAKALAH
Disusun Sebagai Pemenuhan Tugas Konsep Dasar PKn SD dengan Dosen Pengampu Bapak
Imam Muchtar,SH,M.Hum
Fajar Surya Hutama,S.Pd,M.Pd

Disusun oleh:
Nurliana Mawaddah
150210204015
Kelas B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015


KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa, karena hanya atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul penanaman nilai kebersamaan melalui model pembelajaran cooperative tipe numbered head together di SDN Sumber Canting 02 ”. Makalah  ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Dalam makalah ini penulis menyampaikan  terima kasih kepada Bapak Imam Muchtar,SH,M.Hum dan Bapak Fajar Surya Hutama,S.Pd,M.Pd selaku dosen matakuliah Konsep Dasar PKn SD   program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember atas waktunya yang telah memberikan pembinaan. Terima kasih pula penulis sampaikan kepada SDN Sumber Canting 02 yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.Terima kasih pula penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang terkait yang membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
      Jika ditinjau dari aspek isi dan bahasa yang digunakan tentu makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bertujuan memperbaiki makalah ini kami terima dengan sebaik-baiknya.




Jember,  November 2015

Penulis,



DAFTAR ISI
Kata pengantar.................................................................................................... I
Daftar isi............................................................................................................. II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.............................................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3  Tujuan........................................................................................................... 2
BAB II
ISI....................................................................................................................... 3
BAB III
KESIMPULAN.................................................................................................. 13
Daftar Pustaka.................................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Di dalam undang –undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban Bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( undang-undang sisdiknas, Bab II pasal 2 dan pasal 3).
Untuk sampai pada tujuan tersebut diatas perlu diciptakan suasana belajar yang kondusif dan efektif dalam proses pembelajaran. Selain itu pula perlu menumbuhkan sikap kemandirian, percaya diri, kritis, kreatif dan inovatif.
Banyak kalangan siswa menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan, baik yang sedang disampikan guru maupun yang sedang dihadapi dimeja belajar. Kegiatan ini hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk memperdalam ilmu (Sukidin, 2002:152). Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti disekolah-sekolah dasar, diperoleh data bahwa pembelajaran masih menggunakan metode ceramah, guru mendominasi proses pembelajaran, guru memberikan fakta dan konsep untuk dipelajari dan dihafal dan guru memberikan waktu yang sedikit kepada siswa untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat. Sehingga dari beberapa hal tersebut kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengolah konsep dan ide sendiri, sehingga tidak tampak pola kontruktivistik pada siswa sehingga terjadi penurunan gairah belajar siswa. Penurunan tersebut disebabkan oleh ketidaktepatan metode/model pembelajaran.
1.2  Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan semangat kebersamaan?
  2. Bagaimana perwujudan semagat kebersamaan dikalangan pelajar?
  3. Apa yang dimaksud dengan pembelajara cooperative dan NHT?
  4. Bagaimanakah langkah-langkah NHT?
1.3  Tujuan
  1. Untuk mengetahui tentang semangat kebersamaan
  2. Untuk mengetahui perwujudan semangat kebersamaan dikalangan pelajar
  3. Untuk mengetahui metode pembelajaran cooperative tipe NHT
  4. Mengetahui cara melaksanakan pembelajaran tipe NHT

BAB II
ISI
SEMANGAT KEBERSAMAAN
  1. Arti dan Makna Kebersamaan
Manusia adalah makhluk social. Ia tidak dapat hidup sendiri. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memerlukan orang lain. Perhatikanlah dalam kehidupan sehari-hari, adakah manusia yang bisa memenuhi segala kebutuhannya oleh sendiri ? Tentu saja tidak bukan ?
Sadar tidak sadar, kita sebagai manusia sangat tergantung kepada orang lain, coba kita renungkan sejenak, dapatkah kita berpaikaian jika tidak ada penjahit yang menjahit pakaian kita ? Dapatkah kita makan tanpa ada petani yang menanam padi ? Dapatkah kita melewati jalan beraspal jika tidak ada orang lain yang membangun jalan tersebut ? Tentu tidak bisa bukan ? Karena manusia tergantung hidupnya kepada orang lain, maka kita harus mau membangun semangat kebersamaan.
Apakah semangat kebersamaan itu ? Semangat kebersamaan adalah cara hidup bersama yang dilandasi sikap saling menghormati,, saling menolong, dan saling berbagi antara manusia satu dengan manusia lain. Jika kita senang, orang lainpun harus merasa senang, jika orang lain lagi susah maka kitapun turut merasakan susah.
Perhatikan contoh berikut !
Pak Asep orang kaya. Ia hidup ditengah-tengah masyarakat miskin. Setiap panen padi, semua penduduk yang berada disekitar rumah pak Asep dibagi hasil panennya. Masyarakat sekitar rumah pak Asep merasa senang. Akibatnya, merekapun mengulurkan tangan untuk membantu pekerjaan pak Asep . pak Asep dan masyarakat sekitarnya saling menolong, saling berbagi, saling membantu satu sama lainnya.
Dari contoh diatas dapat tergambar semangat kebersamaan. Mereka menjalin kerjasama yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Dalam contoh tersebut, semangat kebersamaan dan saling menolong tergambar jelas.
  1. Semangat kebersamaan di kalangan siswa
Sebagai siswa, kamupun harus memiliki semangat kebersamaan. Sebab, semangat ini sangan menguntungkan bagi kehidupan kita bersama. Coba bayangkan dengan seksama, jika di dalam kelas kalian setiap siswa saling menghormati, saling membantu, dan saling berbagi, tidak ada yang culas, tidak ada yang merugikan orang lain. Tentu suasananya akan indah dan nyaman. Kita merasa senang berada dalam kelas yang demikian itu.
Semangat kebersamaan di lingkungan pelajar antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk :
1.      Saling mendoakan dan menengok teman jika sakit
2.      Saling menolong teman yang kurang mampu
3.      Jika ada makanan saling berbagi dengan teman
4.      Saling menjaga nama baik dan kehormatan teman
5.      Hidup rukun dan tidak suka bertengkar
MODEL PEMBELAJARAN  KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif adalah pemebelajaran yang sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahamana yang dapat menimbulkan permusuhan. Dengan ringkas Abdurahman dan Bintaro (2000:78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, silih asuh antara sesama siswa sebagai latihan hidup didalam masyarakat nyata”.
Menurut Nur (2002:4) pemebelajaran kooperatif dikembangkan berrdasarkan teori belajar kontruktivistik. Kontruktivistik lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky, yang mengemukakan bahwa perubahan kognitif hanay terjadi bila konsep-konsep telah dipahami sebelumnya. Esensi dari teori pembelajaran kontruktivistik adalah ide bahwa siswa harus menemukan (inquiry) dan mentransformasikan suatu konsep-konsep atau informasi kompleks kesituasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkontruksi” bukan “menerima atau mengkonsumsi”pengetahuan. Belajar dengan menemukan (inquiry) memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi meraka untuk aktif hingga mereka menemukan sendiri jawaban daru suatu permasalah.
Model pembelajaran kooperatif pertama kali muncul dari para filosofi diawal abad Masehi yang mengemukakan bahwa seseorang belajar, ia harus memiliki teman belajar sehingga teman tersebut dapat diajak untuk memecahkan masalah. Filsafat ini oleh Slavin (dalam Pambudi, 2002:64) dikembangkan ke dalam model pembelajaran kooperatif yaitu suatu model pembelajaran yang berorietasi pada belajar bersama dan dalam satu kelompok kecil yang heterogen untk mendiskusikan suatu masalah secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya sehingga masalah sulit dapat dipecahkan.
Menurut Lie (2002:12), metode cooperative learning (model pembelajaran kooperatif) merupakan system pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terstruktur. Pendapat lain mengatakan bahwa pada dasarnya model pemebelajaran kooperatif merupakan suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan anggota kelompok itu sendiri (Satrijono, 200:678).
Jadi pembelajaran kooperatif adalah suatu model pemebelajaran yang menekankan pada sikap dan perilaku bersama dalam bekerja kelompok kecil yang heterogen, terdiri atas dua orang atau lebih untuk mendiskusikan serta memecahkan masalah secara bersama sama. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep dan msalah sulit karena dalam pembelajaran kooperatif menekankan pada pembelajaran bersama dalam kelompok kecil dengan demikian kesulitan-kesulitan siswa akan mudah terasi sehingga siswa mampu mencapai hasil belajar yang optimal.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT)
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan untuk dapat berperan serta langsung dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran yang dinilai dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa yaitu metode pembelajaran Cooperative Learning Dengan Teknik Numbered Head Together.
Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagan dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Herdian, 2009).
Menurut Suyanto (2009 : 52 ) mengemukakan langkah-langkah NHT (Numbered Head Together) yaitu :
1.      Mengarahkan
2.      Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomer tertentu
3.      Memberikan persoalan materi bahan ajar ( untuk tiap kelompok sama tapi tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama kemudian kerja kelompok )
4.      Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas.
5.      Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa
6.      Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward.
Hasil penelitian mengenai penanaman nilai kebersamaan melalui model pembelajaran cooperative tipe numbered head together di sdn sumber canting 02
Waktu di laksanakan penelitian :
Hari / tanggal : Jum’at, 4 Desember 2015
Pukul               : 07.00 – 08.15 WIB
Tempat            : Ruang kelas VI SDN Sumber Canting 2
Siswa yang terlibat dalam penilitian ini yaitu :
No absen
Nama Siswa
No absen
Nama Siswa
1
Maryanti
13
Muhammad Miftahur Rahman
2
Dewi Hoqiyah
14
Muhammad Rizal
3
Muhammad Nasiruddin
15
Muhammad Rohid
4
Abdus Salam
16
Nabila Savila
5
Ahmad Khodari
17
Triyana Lestari
6
Amrosi
18
Raudatul Munawwaroh
7
Dwi Aprilia
19
Siti Hawiwi
8
Indra Aditya Putra
20
Sri Khusnul Khotimah
9
Firdaus
21
Safiratul Jannah
10
Halimatus Sya’diyah
22
Yuda Daratista
11
Ivan Gunawan
23
Sahlati
12
Muhammad Babun Waseptian
24
Nurhamidah

Pembentukan kelompok :
Setiap kelompok terdiri dari 4 orang
Kelompok 1 :
  1. Maryati
  2. Dewi hoqiyah
  3. Muhammad Nasiruddin
  4. Abdus Salam
Kelompok 2 :
  1. Ahmad Khodari
  2. Amrosi
  3. Dwi Aprilia
  4. Indra Aditya Putra
Kelompok 3 :
  1. Firdaus
  2. Halimatus Sya’diyah
  3. Ivan Gunawan
  4. Muhammad Babun Waseptian
Kelompok 4 :
  1. Muhammad Miftahur Rahman
  2. Muhammad Rizal
  3. Muhammad Rohid
  4. Nabila Savila
Kelompok 5 :
  1. Triyana Lestari
  2. Raudatul Munawwaroh
  3. Siti Hawiwi
  4. Sri Husnul Khotimah
Kelompok 6 :
  1. Safiratul Jannah
  2. Yuda Daratista
  3. Sahlati
  4. Nurhamidah
            Ket : urutan nomer 1 pada setiap kelompok memperoleh nomer 1,begitupun selanjutnya
Setiap anak yang mendapat nomer 1 dari masing-masing kelompok akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 1
Setiap anak yang mendapat nomer 2 dari masing-masing kelompok akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 2
Setiap anak yang mendapat nomer 3 dari masing-masing kelompok akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 3
Setiap anak yang mendapat nomer 4 dari masing-masing kelompok akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 4
  1. Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer 1 :
Diskusikan dengan kelompokmu bagaimana meneladani nilai-nilai juang para pendiri Negara dalam kehidupan sehari-hari ?
Jawaban :
Meneladani nilai-nilai juang para pendiri Negara dalam kehidupan sehari-hari
Rela mengorbankan apa yang dimiliki
 
1.Sikap rela berkorban yaitu melakukan suatu hal tanpa mengharapkan imbalan, memberikan hal yang dimiliki untuk orang lain.
 


Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini perlu kita kembangkan misalnya dengan cara :
  1. Mau menolong teman yang membutuhkan pertolongan karena celaka, pingsan, atau karena bencana alam
  2. Mau mendonorkan darah melalui PMI untuk menolong mereka yang membutuhkan donor darah
  3. Mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan golongan
  4. Menjadi anggota patroli keamanan sekolah(PKS)
  5. Menjadi anggota pramuka
  6. Menyumbang teman yang sakit atau korban bencana alam
  7. Dan sebagainya
2.Bersikap ikhlas yaitu melakukan sesuatu namun tidak mengharapkan imbalan
Dalam kehidupan sehari-hari,dapat dilakukan dengan cara :
Bagi pelajar siswa kelas 6, sikap ikhlas antara lain dapat diwujudkan dengan cara seperti dibawah ini :
  1. Senantiasa merasa senang bila turut dalam kegiatan upacara keagamaan dan nasional
  2. Tidak munafik (berpura-pura) dalam menolong orang lain
  3. Tulus hati dalam berucap, bersikap dan bertindak
  4. Senantiasa memberikan dengan tulus hati kepada orang yang berhak mendapatkan suatu jabatan atau kedudukan
  5. Tidak mengharapkan imbalan atas segala yang dikerjakan
3.bersikap gigih artinya teguh pendirian dan pikiran akan sesuatu hal (peristiwa)
Perwujudan sikap gigih dalam kehidupan sehari-hari :
  1. Mencapai keinginan dengan dorongan (motif) yang kuat
  2. Tidak kenal putus asa
  3. Selalu ulet dalam berusaha
  4. Teguh dalam memegang prinsip
  1. Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer 2 :
Diskusikan dengan kelompokmu mengenai perbedaan piagam jakarta dan UUD 1945 dan mengapa pembukaan UUD 1945 berbeda dengan yang ada di piagam Jakarta ?
Jawaban :
Di dalam piagam Jakarta pada alinea ke 4 berbunyi “…Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya…” sedangan di perbukaan UUD 1945 “… Ketuhanan Yang Maha Esa…” . Di dalam piagam Jakarta di rubah karena untuk menjadi kerukunan anntar umat beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
  1. Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer 3 :
Diskusikan dan analisis bersama kelompokmu mengapa dalam proses perumusan dasar pancasila di perlukan nilai kebersamaan ?
Jawaban :
Saat bangsa Indonesia merumuskan dasar Negara, kita dapat menangkap kentalnya nilai-nilai kebersamaan diantara mereka. Perhatikan bagaimana sebagian tokoh pejuang kita begitu rela mengubah kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya“ menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apabila tokoh pejuang kita tidak memiliki sikap kebersamaan , tentu saja kalimat itu tidak dapat diubah sudah barang tentu bangsa kita terpecah belah saat itu. Mereka yang tidak beragama islam tidak dapat diwadahi dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untunglah para tokoh pejuang bangsa kita saat itu memahami nilai-nilai kebersamaan, sehingga semua paham dan golongan dapat dipersatukan.
Demikian pula saat siding Panitia Sembilan. Apabila kita cermati secara seksama, pendapat yang banyak masuk dalam Piagam Jakarta  mengenai asas dan dasar Negara Indonesia merdeka adalah pendapat Muh.Yamin, akan tetapi Ir.Soekarno, Mr.Supomo dan tokoh lainnya tidak memaksakan kehendaknya. Mereka begitu lapang dada menerima hasil keputusan bersama itu. Inilah hakikat sikap kebersamaan.
  1. Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer urut 4
Diskusikan dengan kelompokmu , jelaskan nilai juang yang digunakan para pejuang bangsa Indonesia saat merumuskan dasar Negara Pancasila!
Jawaban :
Dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, terdapat nilai-nilai juang yang digunakan para pejuang antara lain:
a.  Nilai persatuan dan kesatuan (kebersamaan)
b.  Nilai keikhlasan.
c. Berani menegakkan kebenaran dan keadilan.
d. Toleran terhadap perbedaan.
e. Nilai musyawarah mufakat.
                   Hasil perbandingan  keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan Metode Cooperatif Learning dengan teknik Numbered Head Together selengkapnya disajikan dalam gambar berikut (data dalam persen) :
Aktivitas siswa
Sangat Aktif
Aktif
Kurang aktif
Tidak Aktif
Kondisi Awal
1(4.16 %)
5(20.83%)
7(29.16%)
11(45.83%)
Siklus I
3(12.5%)
8(33.33%)
11(45.83%)
2(8.33%)
Siklus II
6(25%)
14(58.33%)
4(16.66%)
0(0%)


Dari penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi kerja sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya, siswa menjadi lebih aktif dalam belajar dan juga belajar lebih menyenangkan karena proses belajarnya secara bersama-sama atau secara berkelompok
Kelebihan dari tipe NHT
§  Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi/siswa secara bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. 
§  Siswa pandai maupun siswa lemah sama-sama memperoleh manfaat melalui aktifitas belajar kooperatif.
§  Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi pengetahuan akan manjadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada kesimpulan yang diharapkan. 
§  Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
Kelemahan dari tipe NHT
§  Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah. 
§  Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai. 
§  Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.

BAB III
KESIMPULAN
Semangat kebersamaan adalah cara hidup bersama yang dilandasi sikap saling menghormati,, saling menolong, dan saling berbagi antara manusia satu dengan manusia lain
Semangat kebersamaan di lingkungan pelajar antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk :
1.      Saling mendoakan dan menengok teman jika sakit
2.      Saling menolong teman yang kurang mampu
3.      Jika ada makanan saling berbagi dengan teman
4.      Saling menjaga nama baik dan kehormatan teman
5.      Hidup rukun dan tidak suka bertengkar
Pembelajaran kooperatif adalah pemebelajaran yang sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahamana yang dapat menimbulkan permusuhan.
Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
langkah-langkah NHT (Numbered Head Together) yaitu :
1.      Mengarahkan
2.      Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomer tertentu
3.      Memberikan persoalan materi bahan ajar Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas.
4.      Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa
5.      Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward.


DAFTAR PUSTAKA
Herdian.2009.model pembelajaran NHT (Numbered Head Together. (Online), diakses pada tanggal 7 Desember 2015, https://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-nht-numbered-head-together/
2013.”makna kebersamaan bagi para pelajar” edisi januari-Februari 2012. (Online), diakses pada tanggal 7 Desember 2015, https://santuklauskuwu.wordpress.com/about/kotak-ide-tulis-menulis/mading/candela/
Kusuma,Belantara Tara Matjan.2012. pentingnya loyalitas dan kebersamaan dalam organisasi ( till death do us part ). (Online), diakses pada tanggal 7 Desember 2015, https://www.facebook.com/notes/belantara-tara-matjan-kusuma/pentingnya-loyalitas-dan-kebersamaan-dalam-organisasi-till-death-do-us-part-/10151834679250063/
Budi,Kurniawan.2013. model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). (Online), diakses pada tanggal 7 Desember 2015, https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/model-pembelajaran-kooperatif-cooperative-learning/
Wahyono,Budi.2013.model pembelajaran numbered heads together (NHT).(Online),diakses pada tanggal 7 Desember 2015, http://www.pendidikanekonomi.com/2013/04/model-pembelajaran-numbered-heads.html
Sari,Ika Kartika. Setiadi,Elly Malihah.2019.Aku Warga Negara Indonesia untuk SD/MI Kelas VI.Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan tahun 2009
Hobri, M.Pd, DR. 2007. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru dan Praktisi




 

 


0 komentar:

Posting Komentar