PENANAMAN NILAI KEBERSAMAAN MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER di SDN SUMBER CANTING 02
MAKALAH
Disusun Sebagai Pemenuhan Tugas Konsep Dasar PKn SD
dengan Dosen Pengampu Bapak
Imam Muchtar,SH,M.Hum
Fajar Surya Hutama,S.Pd,M.Pd
Disusun oleh:
Nurliana Mawaddah
150210204015
Kelas B
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JEMBER
2015
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada
Allah Yang Maha Esa, karena hanya atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “penanaman nilai kebersamaan melalui model pembelajaran cooperative tipe
numbered head together di SDN Sumber Canting 02 ”. Makalah
ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya berkat dorongan dan bantuan
dari berbagai pihak. Dalam makalah ini penulis menyampaikan terima kasih
kepada Bapak Imam Muchtar,SH,M.Hum dan Bapak Fajar Surya Hutama,S.Pd,M.Pd selaku
dosen matakuliah Konsep Dasar PKn SD
program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember atas waktunya
yang telah memberikan pembinaan. Terima kasih pula penulis sampaikan kepada SDN
Sumber Canting 02 yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan
penelitian.Terima kasih pula penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang terkait
yang membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Jika ditinjau dari aspek isi dan bahasa yang digunakan tentu
makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
bertujuan memperbaiki makalah ini kami terima dengan sebaik-baiknya.
Jember, November 2015
Penulis,
DAFTAR ISI
Kata pengantar.................................................................................................... I
Daftar
isi............................................................................................................. II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................................... 2
BAB II
ISI....................................................................................................................... 3
BAB III
KESIMPULAN.................................................................................................. 13
Daftar
Pustaka.................................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam undang –undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa
Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban Bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. ( undang-undang sisdiknas, Bab II pasal 2 dan pasal
3).
Untuk
sampai pada tujuan tersebut diatas perlu diciptakan suasana belajar yang
kondusif dan efektif dalam proses pembelajaran. Selain itu pula perlu
menumbuhkan sikap kemandirian, percaya diri, kritis, kreatif dan inovatif.
Banyak
kalangan siswa menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan,
duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada suatu pokok
bahasan, baik yang sedang disampikan guru maupun yang sedang dihadapi dimeja
belajar. Kegiatan ini hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya
aktif untuk memperdalam ilmu (Sukidin, 2002:152). Dari hasil observasi yang
dilakukan peneliti disekolah-sekolah dasar, diperoleh data bahwa pembelajaran
masih menggunakan metode ceramah, guru mendominasi proses pembelajaran, guru
memberikan fakta dan konsep untuk dipelajari dan dihafal dan guru memberikan
waktu yang sedikit kepada siswa untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat.
Sehingga dari beberapa hal tersebut kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
guru bidang studi belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengolah
konsep dan ide sendiri, sehingga tidak tampak pola kontruktivistik pada siswa
sehingga terjadi penurunan gairah belajar siswa. Penurunan tersebut disebabkan
oleh ketidaktepatan metode/model pembelajaran.
1.2 Rumusan
Masalah
- Apa yang dimaksud dengan semangat kebersamaan?
- Bagaimana perwujudan semagat kebersamaan dikalangan pelajar?
- Apa yang dimaksud dengan pembelajara cooperative dan NHT?
- Bagaimanakah langkah-langkah NHT?
1.3 Tujuan
- Untuk mengetahui tentang semangat kebersamaan
- Untuk mengetahui perwujudan semangat kebersamaan dikalangan pelajar
- Untuk mengetahui metode pembelajaran cooperative tipe NHT
- Mengetahui cara melaksanakan pembelajaran tipe NHT
BAB
II
ISI
SEMANGAT
KEBERSAMAAN
- Arti dan Makna Kebersamaan
Manusia
adalah makhluk social. Ia tidak dapat hidup sendiri. Dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya, manusia memerlukan orang lain. Perhatikanlah dalam kehidupan
sehari-hari, adakah manusia yang bisa memenuhi segala kebutuhannya oleh sendiri
? Tentu saja tidak bukan ?
Sadar
tidak sadar, kita sebagai manusia sangat tergantung kepada orang lain, coba
kita renungkan sejenak, dapatkah kita berpaikaian jika tidak ada penjahit yang
menjahit pakaian kita ? Dapatkah kita makan tanpa ada petani yang menanam padi
? Dapatkah kita melewati jalan beraspal jika tidak ada orang lain yang
membangun jalan tersebut ? Tentu tidak bisa bukan ? Karena manusia tergantung
hidupnya kepada orang lain, maka kita harus mau membangun semangat kebersamaan.
Apakah
semangat kebersamaan itu ? Semangat kebersamaan adalah cara hidup bersama yang
dilandasi sikap saling menghormati,, saling menolong, dan saling berbagi antara
manusia satu dengan manusia lain. Jika kita senang, orang lainpun harus merasa
senang, jika orang lain lagi susah maka kitapun turut merasakan susah.
Perhatikan
contoh berikut !
Pak
Asep orang kaya. Ia hidup ditengah-tengah masyarakat miskin. Setiap panen padi,
semua penduduk yang berada disekitar rumah pak Asep dibagi hasil panennya.
Masyarakat sekitar rumah pak Asep merasa senang. Akibatnya, merekapun
mengulurkan tangan untuk membantu pekerjaan pak Asep . pak Asep dan masyarakat
sekitarnya saling menolong, saling berbagi, saling membantu satu sama lainnya.
Dari
contoh diatas dapat tergambar semangat kebersamaan. Mereka menjalin kerjasama
yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Dalam contoh tersebut,
semangat kebersamaan dan saling menolong tergambar jelas.
- Semangat kebersamaan di kalangan siswa
Sebagai
siswa, kamupun harus memiliki semangat kebersamaan. Sebab, semangat ini sangan
menguntungkan bagi kehidupan kita bersama. Coba bayangkan dengan seksama, jika
di dalam kelas kalian setiap siswa saling menghormati, saling membantu, dan
saling berbagi, tidak ada yang culas, tidak ada yang merugikan orang lain.
Tentu suasananya akan indah dan nyaman. Kita merasa senang berada dalam kelas
yang demikian itu.
Semangat
kebersamaan di lingkungan pelajar antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk :
1.
Saling mendoakan dan menengok teman jika
sakit
2.
Saling menolong teman yang kurang mampu
3.
Jika ada makanan saling berbagi dengan
teman
4.
Saling menjaga nama baik dan kehormatan
teman
5.
Hidup rukun dan tidak suka bertengkar
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran
kooperatif adalah pemebelajaran
yang sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk
menghindari ketersinggungan dan kesalahpahamana yang dapat menimbulkan
permusuhan. Dengan
ringkas Abdurahman dan Bintaro (2000:78) mengatakan bahwa “pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan
interaksi yang silih asah, silih asih, silih asuh antara sesama siswa sebagai
latihan hidup didalam masyarakat nyata”.
Menurut
Nur (2002:4) pemebelajaran kooperatif dikembangkan berrdasarkan teori belajar
kontruktivistik. Kontruktivistik lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky, yang
mengemukakan bahwa perubahan kognitif hanay terjadi bila konsep-konsep telah
dipahami sebelumnya. Esensi
dari teori pembelajaran kontruktivistik adalah ide bahwa siswa harus menemukan
(inquiry) dan mentransformasikan suatu konsep-konsep atau informasi kompleks
kesituasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka
sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses
“mengkontruksi” bukan “menerima atau mengkonsumsi”pengetahuan. Belajar dengan
menemukan (inquiry) memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi meraka
untuk aktif hingga mereka menemukan sendiri jawaban daru suatu permasalah.
Model pembelajaran kooperatif pertama kali muncul
dari para filosofi
diawal abad Masehi yang mengemukakan
bahwa seseorang belajar, ia harus memiliki teman belajar sehingga teman
tersebut dapat diajak untuk memecahkan masalah. Filsafat ini oleh Slavin (dalam
Pambudi, 2002:64) dikembangkan ke dalam
model pembelajaran kooperatif yaitu suatu model pembelajaran yang berorietasi
pada belajar bersama dan dalam satu kelompok kecil yang heterogen untk
mendiskusikan suatu
masalah secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya sehingga masalah sulit
dapat dipecahkan.
Menurut
Lie (2002:12), metode
cooperative learning (model pembelajaran kooperatif) merupakan system
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama
dengan sesama siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terstruktur. Pendapat
lain mengatakan bahwa pada dasarnya model pemebelajaran kooperatif merupakan suatu sikap
atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam
struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang
atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan
anggota kelompok itu sendiri (Satrijono, 200:678).
Jadi
pembelajaran kooperatif adalah suatu model pemebelajaran yang menekankan pada
sikap dan perilaku bersama dalam bekerja kelompok kecil yang heterogen, terdiri
atas dua orang atau lebih untuk mendiskusikan serta memecahkan masalah secara
bersama sama. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa diharapkan dapat
memahami konsep-konsep dan msalah sulit karena dalam pembelajaran kooperatif
menekankan pada pembelajaran bersama dalam kelompok kecil dengan demikian
kesulitan-kesulitan siswa akan mudah terasi sehingga siswa mampu mencapai hasil
belajar yang optimal.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER
(NHT)
Untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan untuk dapat
berperan serta langsung dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran yang
dinilai dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa yaitu metode pembelajaran
Cooperative Learning Dengan Teknik Numbered Head Together.
Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk
meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagan dengan
melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran
dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Herdian, 2009).
Menurut Suyanto (2009 : 52 ) mengemukakan langkah-langkah NHT
(Numbered Head Together) yaitu :
1.
Mengarahkan
2.
Membuat kelompok
heterogen dan tiap siswa memiliki nomer tertentu
3.
Memberikan persoalan
materi bahan ajar ( untuk tiap kelompok sama tapi tiap siswa dengan nomor sama
mendapat tugas yang sama kemudian kerja kelompok )
4.
Mempresentasikan hasil
kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga
terjadi diskusi kelas.
5.
Mengadakan kuis
individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa
6.
Mengumumkan hasil kuis
dan memberikan reward.
Hasil penelitian mengenai penanaman nilai kebersamaan melalui model pembelajaran cooperative tipe
numbered head together di sdn sumber canting 02
Waktu di laksanakan penelitian :
Hari / tanggal :
Jum’at, 4 Desember 2015
Pukul :
07.00 – 08.15 WIB
Tempat :
Ruang kelas VI SDN Sumber Canting 2
Siswa yang terlibat dalam penilitian ini yaitu :
|
No absen
|
Nama Siswa
|
No absen
|
Nama Siswa
|
|
1
|
Maryanti
|
13
|
Muhammad Miftahur
Rahman
|
|
2
|
Dewi Hoqiyah
|
14
|
Muhammad Rizal
|
|
3
|
Muhammad Nasiruddin
|
15
|
Muhammad Rohid
|
|
4
|
Abdus Salam
|
16
|
Nabila Savila
|
|
5
|
Ahmad Khodari
|
17
|
Triyana Lestari
|
|
6
|
Amrosi
|
18
|
Raudatul Munawwaroh
|
|
7
|
Dwi Aprilia
|
19
|
Siti Hawiwi
|
|
8
|
Indra Aditya Putra
|
20
|
Sri Khusnul Khotimah
|
|
9
|
Firdaus
|
21
|
Safiratul Jannah
|
|
10
|
Halimatus Sya’diyah
|
22
|
Yuda Daratista
|
|
11
|
Ivan Gunawan
|
23
|
Sahlati
|
|
12
|
Muhammad Babun
Waseptian
|
24
|
Nurhamidah
|
Pembentukan kelompok :
Setiap kelompok terdiri dari 4 orang
|
Kelompok 1 :
|
Kelompok 2 :
|
|
Kelompok 3 :
|
Kelompok 4 :
|
|
Kelompok 5 :
|
Kelompok 6 :
|
Ket : urutan nomer 1 pada setiap
kelompok memperoleh nomer 1,begitupun selanjutnya
Setiap anak yang mendapat nomer 1 dari masing-masing kelompok
akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 1
Setiap anak yang mendapat nomer 2 dari masing-masing kelompok
akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 2
Setiap anak yang mendapat nomer 3 dari masing-masing kelompok
akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 3
Setiap anak yang mendapat nomer 4 dari masing-masing kelompok
akan berkumpul dan mendiskusikan soal nomer 4
- Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer 1 :
Diskusikan dengan kelompokmu bagaimana meneladani nilai-nilai
juang para pendiri Negara dalam kehidupan sehari-hari ?
Jawaban :
Meneladani nilai-nilai juang para pendiri Negara dalam
kehidupan sehari-hari
|
![]() |
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini perlu kita kembangkan
misalnya dengan cara :
- Mau menolong teman yang membutuhkan pertolongan karena celaka, pingsan, atau karena bencana alam
- Mau mendonorkan darah melalui PMI untuk menolong mereka yang membutuhkan donor darah
- Mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan golongan
- Menjadi anggota patroli keamanan sekolah(PKS)
- Menjadi anggota pramuka
- Menyumbang teman yang sakit atau korban bencana alam
- Dan sebagainya
2.Bersikap ikhlas yaitu melakukan sesuatu namun tidak
mengharapkan imbalan
Dalam kehidupan sehari-hari,dapat dilakukan dengan cara :
Bagi pelajar siswa kelas 6, sikap ikhlas antara lain dapat
diwujudkan dengan cara seperti dibawah ini :
- Senantiasa merasa senang bila turut dalam kegiatan upacara keagamaan dan nasional
- Tidak munafik (berpura-pura) dalam menolong orang lain
- Tulus hati dalam berucap, bersikap dan bertindak
- Senantiasa memberikan dengan tulus hati kepada orang yang berhak mendapatkan suatu jabatan atau kedudukan
- Tidak mengharapkan imbalan atas segala yang dikerjakan
3.bersikap gigih artinya teguh pendirian dan pikiran akan
sesuatu hal (peristiwa)
Perwujudan sikap gigih dalam kehidupan sehari-hari :
- Mencapai keinginan dengan dorongan (motif) yang kuat
- Tidak kenal putus asa
- Selalu ulet dalam berusaha
- Teguh dalam memegang prinsip
- Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer 2 :
Diskusikan dengan kelompokmu mengenai perbedaan piagam
jakarta dan UUD 1945 dan mengapa pembukaan UUD 1945 berbeda dengan yang ada di
piagam Jakarta ?
Jawaban :
Di dalam piagam Jakarta pada alinea ke 4 berbunyi “…Ketuhanan
dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya…” sedangan
di perbukaan UUD 1945 “… Ketuhanan Yang Maha Esa…” . Di dalam piagam Jakarta di
rubah karena untuk menjadi kerukunan anntar umat beragama di Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI)
- Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer 3 :
Diskusikan dan analisis bersama kelompokmu mengapa dalam
proses perumusan dasar pancasila di perlukan nilai kebersamaan ?
Jawaban :
Saat bangsa Indonesia merumuskan dasar Negara, kita dapat
menangkap kentalnya nilai-nilai kebersamaan diantara mereka. Perhatikan
bagaimana sebagian tokoh pejuang kita begitu rela mengubah kalimat “Ketuhanan
dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya“ menjadi
“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apabila tokoh pejuang kita tidak memiliki sikap
kebersamaan , tentu saja kalimat itu tidak dapat diubah sudah barang tentu
bangsa kita terpecah belah saat itu. Mereka yang tidak beragama islam tidak
dapat diwadahi dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untunglah
para tokoh pejuang bangsa kita saat itu memahami nilai-nilai kebersamaan,
sehingga semua paham dan golongan dapat dipersatukan.
Demikian pula saat siding Panitia Sembilan. Apabila kita
cermati secara seksama, pendapat yang banyak masuk dalam Piagam Jakarta mengenai asas dan dasar Negara Indonesia
merdeka adalah pendapat Muh.Yamin, akan tetapi Ir.Soekarno, Mr.Supomo dan tokoh
lainnya tidak memaksakan kehendaknya. Mereka begitu lapang dada menerima hasil
keputusan bersama itu. Inilah hakikat sikap kebersamaan.
- Pertanyaan untuk siswa yang memperoleh nomer urut 4
Diskusikan dengan kelompokmu , jelaskan nilai juang
yang digunakan para pejuang bangsa Indonesia saat merumuskan dasar Negara
Pancasila!
Jawaban :
Dalam
proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, terdapat nilai-nilai juang
yang digunakan para pejuang antara lain:
a. Nilai persatuan dan kesatuan (kebersamaan)
b. Nilai keikhlasan.
c.
Berani menegakkan kebenaran dan keadilan.
d.
Toleran terhadap perbedaan.
e.
Nilai musyawarah mufakat.
Hasil perbandingan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
sebelum dan sesudah menggunakan Metode Cooperatif
Learning dengan teknik Numbered Head
Together selengkapnya disajikan dalam gambar berikut (data dalam persen) :
|
Aktivitas siswa
|
Sangat Aktif
|
Aktif
|
Kurang aktif
|
Tidak Aktif
|
|
Kondisi
Awal
|
1(4.16
%)
|
5(20.83%)
|
7(29.16%)
|
11(45.83%)
|
|
Siklus
I
|
3(12.5%)
|
8(33.33%)
|
11(45.83%)
|
2(8.33%)
|
|
Siklus
II
|
6(25%)
|
14(58.33%)
|
4(16.66%)
|
0(0%)
|
Dari penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi
kerja sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya, siswa menjadi
lebih aktif dalam belajar dan juga belajar lebih menyenangkan karena proses
belajarnya secara bersama-sama atau secara berkelompok
Kelebihan dari tipe NHT
§ Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi/siswa secara
bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
§ Siswa pandai maupun siswa lemah sama-sama memperoleh manfaat
melalui aktifitas belajar kooperatif.
§ Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi
pengetahuan akan manjadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada
kesimpulan yang diharapkan.
§ Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan
keterampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
Kelemahan dari tipe NHT
§ Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat
menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah.
§ Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar
menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang
memadai.
§ Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang
berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.
BAB
III
KESIMPULAN
Semangat
kebersamaan adalah cara hidup bersama yang dilandasi sikap saling menghormati,,
saling menolong, dan saling berbagi antara manusia satu dengan manusia lain
Semangat
kebersamaan di lingkungan pelajar antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk :
1.
Saling mendoakan dan menengok teman jika
sakit
2.
Saling menolong teman yang kurang mampu
3.
Jika ada makanan saling berbagi dengan
teman
4.
Saling menjaga nama baik dan kehormatan
teman
5.
Hidup rukun dan tidak suka bertengkar
Pembelajaran
kooperatif adalah pemebelajaran
yang sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk
menghindari ketersinggungan dan kesalahpahamana yang dapat menimbulkan
permusuhan.
Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk
meningkatkan penguasaan akademik.
langkah-langkah NHT (Numbered Head Together) yaitu :
1.
Mengarahkan
2.
Membuat kelompok
heterogen dan tiap siswa memiliki nomer tertentu
3.
Memberikan persoalan
materi bahan ajar Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang
sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas.
4.
Mengadakan kuis individual
dan membuat skor perkembangan tiap siswa
5.
Mengumumkan hasil kuis
dan memberikan reward.
DAFTAR
PUSTAKA
Herdian.2009.model pembelajaran NHT
(Numbered Head Together. (Online), diakses pada tanggal 7 Desember 2015, https://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-nht-numbered-head-together/
2013.”makna kebersamaan bagi para
pelajar” edisi januari-Februari 2012. (Online), diakses pada tanggal 7 Desember
2015, https://santuklauskuwu.wordpress.com/about/kotak-ide-tulis-menulis/mading/candela/
Kusuma,Belantara Tara Matjan.2012.
pentingnya loyalitas dan kebersamaan dalam organisasi ( till death do us part
). (Online), diakses pada tanggal 7 Desember 2015, https://www.facebook.com/notes/belantara-tara-matjan-kusuma/pentingnya-loyalitas-dan-kebersamaan-dalam-organisasi-till-death-do-us-part-/10151834679250063/
Budi,Kurniawan.2013. model pembelajaran
kooperatif (cooperative learning). (Online), diakses pada tanggal 7 Desember
2015, https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/model-pembelajaran-kooperatif-cooperative-learning/
Wahyono,Budi.2013.model pembelajaran
numbered heads together (NHT).(Online),diakses pada tanggal 7 Desember 2015,
http://www.pendidikanekonomi.com/2013/04/model-pembelajaran-numbered-heads.html
Sari,Ika Kartika. Setiadi,Elly Malihah.2019.Aku Warga Negara Indonesia untuk SD/MI Kelas
VI.Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan tahun 2009
Hobri,
M.Pd, DR. 2007. Penelitian Tindakan Kelas
Untuk Guru dan Praktisi







0 komentar:
Posting Komentar